Re-kreasi

Kala itu, orang-orang berkumpul mereka saling mengobrol membicarakan tentang tempat-tampat rekreasi.

Sebagian mengatakan, “Tempat yang paling menyenangkan untuk berekreasi adalah lembah-lembah yang asri di Damaskus.”

Sebagian yang lain berkata, “Yang paling menyenangkan adalah sungai Uballah.”

Yang lain lagi berkata, “Taman Samarkand.”

Yang lainnya lagi berkata, “Nahrawan di Baghdad.”

Yang lainnya lagi, “Taman indah di Bawwan.”

Lainnya lagi, “Nubahar Balkh.”

Di antara orang-orang itu ada seorang ulama, Ibnu Duraid namanya. Beliau berkomentar, “Semua itu adalah tempat rekreasi mata, lalu manakah jatah rekreasi hati kalian?”

“Apa yang anda maksud rekreasi hati ?”

“Rekreasi hati yaitu membaca kitab ‘Uyunul Akhbar karya Al Quthbi, Az Zahrah karya Ibnu Dawud dan Qolaqul Musytaq karya Ibnu Abi Thahir.”

Kemudian beliau bersyair:

Barangsiapa tamasya-nya tertuju pada biduanita, piala, dan minuman

Maka tamasya dan istirahat kami adalah menelaah buku dan kitab Al ‘Uyun

(ref: terjemah Al Musyawiq Ilal Qiroah wa Tholabil ‘Ilmi)

Hikmahnya: Perhatikanlah bedanya antara rekreasi para ulama dengan rekreasi kita. Jika rekreasi kita adalah traveling dan jalan-jalan cantik sambil selfie, maka rekreasi mereka adalah mengunjungi kitab-kitab yang menghidupkan hati.

Siapa yang mau meneladani dan meneruskan semangat mereka dalam belajar dan membaca buku? Kita?

Habit Seed & Jebakan

Dalam tulisan ini, ijinkan saya menggunakan istilah yang saya buat sendiri, habit seed. Habit seed adalah kegiatan rutin yang kita lakukan yang akan menjadi kebiasaan dan kemudian berubah menjadi watak kepribadian kita.

Habit seed bisa berupa kegiatan yang disengaja dirutinkan ataupun yang tidak disengaja dirutinkan. Dalam tulisan ini akan dibatasi pada habit seed yang disengaja.

Habit seed juga bisa berupa kegiatan yang baik, sehingga membekas baik pada watak kita, bisa juga berupa kegiatan yang buruk sehingga membekas buruk pada watak kita.

Kita, sebagai orang yang berakal, pastinya menginginkan kebiasaan yang baik sehingga berdampak baik pula pada pribadi kita. Di kalangan para penulis blog, biasanya habit seed yang baik berupa usaha untuk merutinkan menulis atau membaca beberapa lembar halaman buku tiap harinya.

Jadi itulah habit seed. Dalam istilah sederhananya: bakal kebiasaan atau bakal karakter.

Mengapa dinamakan habit seed? Karena dia memiliki karakteristik penting yang sangat mirip dengan seed/ biji tanaman. Apa itu?

— Biji tanaman yang kita tanam hari ini, tidaklah langsung tumbuh esok hari —

Ini adalah karakteristik penting dari habit seed. Yaitu: kebiasaan yang kita mulai tidak akan nampak dampaknya esok hari. baik maupun buruk. Contoh: seorang yang mulai membiasakan menulis setiap hari. Pada hari kedua dia belum akan merasakan efeknya, dia akan tetap merasa susah menulis dan level tulisannya belum ada peningkatan. Yah karena dia baru memulainya kemarin. Contoh yang lain, orang yang mulai merokok hari ini. Esok harinya dia akan tetap sehat-sehat saja, belum mengalami sakit paru-paru. Yah karena dia baru mulai merokok kemarin.

Get my point?

Di sinilah ada jebakan yang samar. Siapakah orang-orang yang yang terjebak? Mereka adalah orang yang berhenti berusaha merutinkankan sesuatu yang baik karena merasa tidak ada manfaatnya, tidak ada perubahan yang signifikan. Mereka juga adalah orang yang tetap melakukan kebiasaan buruknya karena merasa baik-baik saja, tidak terasa dampak negatifnya.

Ingat, biji tidak tumbuh dalam sehari.

Dengan memahami ini, maka kita yang ingin merutinkan kebiasaan baik, maka rutinkanlah. Dan tetaplah terus melakukannya meskipun kita merasa stagnan, merasa tidak ada progress, merasa begini-begini saja. Keep going. Seiring berjalannya waktu, habit seed baik anda akan tumbuh menjadi habit, kemudian berubah menjadi kepribadian.

Sebaliknya, kita yang memiliki kegiatan rutin yang buruk. Maka berhentilah sekarang juga. Sekarang juga. Meskipun kita belum merasakan dampak buruknya, berhenti sekarang juga. Sebelum habit seed anda tumbuh menjadi pohon besar yang akan sangat sulit dicabut.

Jangan terjebak.

 

Tidak Penasaran

“Kukatakan padamu, jujur. Aku taktahu apakah kata-kataku ini nanti akan terdengar aneh, tak masuk akal atau tidak. Tapi akan tetap kukatakan padamu, jujur.

Sebelum bertemu denganmu, aku telah meminjam mata banyak orang. Banyak sisi dunia yang telah kulihat. Dan kini telah habis rasa penasaranku pada dunia ini.

Aku bukan orang yang malas atau tidak peduli. Aku hanya tidak penasaran lagi dengan dunia ini.

Hal-hal yang menurutmu menarik, bagiku biasa saja. Rasa penasaranku pada dunia ini sudah habis. Titik.

Jadi, jika kau hendak membawaku pergi, bawalah aku pergi dari dunia ini. Ke tempat yang indahnya tekpernah bisa kubayangkan.”

Berbekal Retorika

Di luar sana,

berbekal retorika, seseorang menjadikan yang buruk itu baik dan menjadikan yang baik itu buruk. Kemudian menghapus batas antara yang baik dan buruk.

berbekal retorika, seseorang menghilangkan definisi tentang apakah yang benar dan yang salah. Kemudian menghapus batas antara yang benar dan salah.

berbekal retorika, seseorang memuliakan yang hina dan menghinakan yang mulia. Kemudian menghapus batas antara yang hina dan mulia.

Telah kita jumpai di dunia nyata, orang-orang yang berbekal retorika.

Mengubah orang yang baik, benar, dan mulia menjadi orang yang buruk, salah, dan hina. Hanya dengan berbekal retorika.

Kemudian orang-orang bodohpun bersorak mengeluk-elukan dia yang hanya berbekal retorika.

disgusting.

Yang kita cari bukanlah retorika.

Kita mencari kebaikan sejati, bukan retorika.

Kita mencari kebenaran sejati, bukan retorika.

Kita mencari kemuliaan sejati, bukan retorika.

Dan semua yang sejati selalu bersama dengan ilmu yang datang bagaikan air bah, menghempas sampah-sampah retorikan  dan memasukkannya ke selokan.

Paradoks Ilmu Dan Pemiliknya

Ada hal paradoks yang mengherankan dan berkali-kali saya jumpai. Yaitu: orang-orang bodoh selalu merasa sebagai orang yang berilmu, sedangkan orang-orang yang benar-benar berilmu selalu merasa banyak yang belum mereka tahu.

Orang-orang bodoh merasa pandai. Orang-orang pandai merasa bodoh.

Ada hipotesa mengapa ini bisa terjadi. Orang-orang bodoh, saking bodohnya mereka tidak tahu bahwa ilmu itu luas, pandangan mereka picik sehingga mereka menganggap sedikit ilmu yang mereka tahu telah mencakup semuanya. Orang-orang pandai, paham bahwa ruang ilmu itu luas dan mereka tahu bahwa banyaknya ilmu yang mereka miliki belumlah meng-cover ruang ilmu yang luas.

Zaman ini keadaan jadi semakin parah. Dengan adanya media sosial, tiap orang jadi memiliki mimbar masing-masing. Jadilah orang-orang bodoh yang merasa pandai itu beramai-ramai naik mimbar. Dan mereka jadi punya banyak pengikut. Pengikut dari golongan orang-orang yang polos. Orang-orang polos ini bukanlah mengikuti kebenaran tapi mengikuti orang yang bisa bicara dengan mantap dan percaya diri. Dan siapakah orang yang lebih percaya diri dibandingkan dengan orang yang merasa pandai?

Orang-orang bodoh yang merasa pandai jadi memiliki banyak pengikut dan semakin menjadi-jadi dengan kebodohannya. Semakin merasa berilmu. Semakin tidak mau belajar. Semakin…, semakin…. . Ah, saya muak menulisnya.

Saya pernah menulis satu quote di facebook beberapa tahun lalu, dan quote itu dicopy oleh beberapa fanspage, bunyinya:

rect4485


” Belajarlah, karena orang-orang yang berilmu itu langka,

sedangkan orang-orang yang merasa berilmu tersebar di mana-mana.”


rect4485

Tanyakan diri anda sendiri, apakah anda merasa pandai dalam sesuatu? Jika iya, maka kemungkinan besar anda adalah bagian dari orang-orang bodoh yang merasa pandai. Orang-orang pandai yang sebenarnya selalu merasa ilmu mereka kurang.

Belajarlah, jangan jadi orang bodoh. Jika kita masih bodoh, maka sibuklah belajar

Negeri Bekas Jajahan

Negeri kita ini adalah negeri bekas jajahan. Lebih dari tiga ratus tahun dijajah. Itu artinya lebih dari sepuluh generasi nenek moyang kita ditindas dan direndahkan.

Selama rentang penjajahan itu, apa damage terbesar yang negeri kita alami? Dulu ketika masih SMP, di pelajaran sejarah dijelaskan bahwa para penjajah datang untuk mengeruk sumber daya alam negeri kita. Jadi damage terbesar adalah sumber daya alam kita yang dicuri besar-besaran.

Bukan. Damage terbesar bukanlah kuantitas sumber daya alam kita yang dicuri dan diangkut oleh para penjajah. Lalu apa?

Perhatikan lagi, kita dijajah selama sepuluh generasi lebih. Bayangkan jika anda adalah seorang anak, orang tua anda adalah pembantu yang tertindas, kakek nenek anda juga adalah pembantu yang tertindas, buyut anda juga, kaket buyut anda juga. Sementara teman anda adalah orang yang berasal dari keluarga yang normal tidak tertindas. Apa perbedaan paling signifikan antara anda dengan dia?

Mental. Mental anda dan mental teman anda akan jauh berbeda. Sepuluh generasi adalah waktu yang sangat cukup untuk mengubah mental suatu negeri. Para penduduk negeri bekas jajahan memiliki sifat mental yang khas, yaitu mental inferior.

Mental inferior ini sangat terlihat di masyarakat kita. Hek, tak perlu jauh-jauh bicara masyarakat, mental inferior ini ada dalam pikiran kita sendiri, generasi ketiga sejak negeri ini merdeka.

Kita cenderung minder saat bersaing dengan bule. Kita cenderung meng-glorifikasi luar negeri, menganggap apa yang mereka miliki adalah bagus dan wah. Kita cenderung apatis dengan kemampuan kita sendiri. Kita seringkali merasa lemah dan merasa tidak sanggup melakukan hal-hal besar. Secara default dalam pikiran kita, produk luar negeri adalah lebih bagus dibandingkan produk lokal. Dan lain-lain. Tak perlu mengelak. Saya yakin bahwa dalam hati anda tahu bahwa semua contoh di atas itu benar.

Lalu apa? Bagaimana cara memperbaikinya? Permasalah mental masyarakat seperti ini tidak akan bisa diselesaikan dengan cepat, ini adalah masalah intergenerasi, butuh beberapa generasi untuk menyelesaikannya.

Marilah kita mulai dengan sederhana. Caranya bukan dengan menjadi nasionalis buta. Tapi dengan cara mengangkat perasaan inferior itu dari kepala kita masing-masing. Berhenti merasa lemah. Kita sanggup melakukan hal-hal besar. Kita tidak puas dengan sesuatu yang remeh. Berhenti merasa lemah.

Hilangkan perasaan inferior itu. Berhenti sibuk dengan hal-hal yang remeh. Jadi versi terbaikmu. Optimis (jika saran-saran ini terdengar klise, tandanya anda memang benar benar memiliki mental inferios). Saat perasaan inferior itu hilang, maka secara otomatis semua perilaku dan cara berpikir anda akan berubah. Perilaku dan cara berpikir ini akan menular sedikit demi sedikit ke orang di sekitar anda. Dan akan menular dalam jumlah besar ke anak anda yang berada langsung di bawah didikan anda. Kemudian dari situ, akan menular ke yang lebih banyak orang lagi. Ke cucu. Ke cicit dan seterusnya. Harapannya dalam tiga atau empat generasi ke depan, mental inferior negeri ini bisa dihapus secarar sempurna. Semoga negeri kita belum hancur saat itu.

Jangan merasa lemah!

Otentik

rect4485

Aku menyukai hal yang otentik. Aku menyukai warna putih yang bersih.

Aku merekam memori dan kenangan menggunakan mata, bukan kamera. Kemudian menyimpannya baik-baik dalam hati, bukan dalam instagram atau efbi.

Aku tak menambahkan gula dalam cangkir tehku. Tak kutambahkan pula saus dan kecap dalam mangkok baksoku.

dan lagi,,

senyum polos di wajah bersihmu yang tak  ber-make-up telah sangat sanggup untuk membuatku jatuh terpesona.

rect4485