Wajah WhatsApp

Di pekerjaan yang baru ini, circle pergaulan saya otomatis tambah luas. Buktinya adalah tambah banyaknya kontak yang tersimpan di dalam smartphone ini. Nomor saya juga disimpan oleh lebih banyak orang dibandingkan sebelumnya.

Orang yang saya kenal semakin banyak dan semakin beragam latar belakangnya. Sebelum ini, circle pergaulan saya cenderung tidak seberapa luas, maklum suka pilih-pilih teman. Karena sebelumnya kerjaan saya bareng teman-teman, maka ya bergaulnya dengan mereka-mereka juga.

Beda dengan sekarang. Sekarang kerjanya bukan dengan teman lagi. Jadinya mau tidak mau tambah kenal banyak orang.

Sebagaimana orang-orang Indonesia umumnya, sarana komunikasi kami di kantor adalah WA. Hubungan dengan instansi-instansi lain juga dengan WA. Telpon juga pakai WA. Apa-apa WhatsApp-lah pokoknya.

Dan saya baru menyadari satu hal yang cukup apa ya… bisa dibilang annoying untuk saya. Apa itu? Foto profil WhatsApp.

Dulu teman-teman saya foto profilnya biasanya pakai pemandangan atau semacamnya. Tidak ada yang pakai foto selfie. Tapi sekarang, chat di WA saya banyak yang pakai foto selfie.

Rasanya agak annoying. Kalau sedang buka home WA, saya jadinya mandangi muka mereka yang sedang sok imut atau sok ganteng. Cringe rasanya, hahaha… Saya ga tahan mandangi wajah orang-orang. Aneh. Ga nyaman rasanya. Rasanya seperti dia sedang mandangi saya, sambil senyum sok ganteng dan sok imut -_-

Karena itu biasanya kalau ada chat dengan orang yang foto profilnya pakai foto selfie, saya langsung pencet, tahan, kemudian pilih archive chat. Biar hilang wajahnya dari pandangan. Hahaha…

Advertisements

Setahun Yang Lalu-Setahun Yang Akan Datang

Tepat setahun yang lalu, di malam takbiran, saya membuat tulisan dengan judul yang sama. Lalu apakah tahun depan saya akan membuat tulisan dengan judul ini lagi? Wallahu a’lam.

Kepada saya di tahun yang lalu yang bertanya apakah dirimu akan menjumpai Ramadhan tahun depan? Jawabannya adalah ya dan Ramadhan tahun ini dalam beberapa sisi lebih baik dibandingkan tahun lalu dan beberapa sisi yang lain, tahun lalu lebih bagus. Maka kepada diri saya di tahun depan, jika kamu menjumpai Ramadhan kembali tolong jangan sampai terulang hal-hal yang kurang di tahun ini.

Seperti malam takbiran sebelumnya, saya kebagian tugas membuat kartu ucapan keluarga buat dikirim ke orang-orang yang orang tua saya kenal. Pengalaman tahun lalu, kartu ucapannya ternyata hanya dikirim lewat whatsapp, karena itu untuk tahun ini saya buat kartu ucapannya berorientasi portrait dengan rasio umumnya layar smartphone.

desain tahun ini

Tahun kemarin warna tema kartu ucapannya emas, tahun ini biru dongker. Dari sisi desain kayaknya saya gini-gini aja, ga ada perkembangan hahaha. Meskipun sederhana, begitu dibuka di whatsapp full screen penuh selayar smartphone kelihatannya lumayan bagus kok. Yah… not bad lah.

Lalu apa yang berubah selama setahun ini?

Pekerjaan. Saat ini saya kerja di tempat yang berbeda dengan setahun yang lalu. Bahkan dalam tiga tahun ini saya kerja di tiga tempat yang berbeda. Memulai kerja di tempat baru berarti me-reset kembali reputasi. Mulai dari nol lagi. Mulai dari bukan siapa-siapa lagi.

Untuk pekerjaan yang ini saya cukup excited. Surprisingly cocok dengan skill dan personality saya. Jika di tempat-tempat sebelumnya tujuan utamanya untuk belajar dan mencari pengalaman, maka di sini saya berencana untuk membangun karir. Mohon doanya.

Tahun ini banyak rencana yang terealisasi. Bahkan rencana & keinginan yang sulitpun tercapai juga. Saya sepertinya sedang diuji dengan nasib yang baik. DIuji apakah bisa bersyukur ataukah malah lupa diri.

Semakin hari rasanya saya semakin mendekati keadaan ideal. Meskipun masih jauh dari ideal, tapi saya merasa berada di track yang tepat dan memiliki mindset yang tepat juga. Intinya, keadaan terasa semakin baik.

Meskipun begitu, saya tahu ke depan tantangan juga semakin besar. Tapi somehow saya optimis. Perasaan takut, inferior, dan merasa tidak mampu semakin hari semakin hilang, alhamdulillah.

Oh iya, di tahun ini beberapa anggota keluarga meninggal. Beberapa anggota keluarga baru juga muncul. Terasa sekali bahwa generasi mulai berganti.

Tulisan singkat di malam takbiran ini sepertinya cukup untuk mengupdate blog yang sedang dianaktirikan ini, hahaha. Maaf blog, saya sedang sok sibuk, tapi akan diusahakan supaya kembali aktif seperti dulu, ada banyak sekali yang ingin saya tulis sebenarnya tapi waktu belum mengijinkan.

Akhir kata taqobalallahu minna waminkum, selamat Hari Raya Idul FItri. Sampai jumpa lagi di tahun depan. Eh nggak ding, sampai jumpa lagi di tulisan berikutnya.

Beli Smartphone Baru

Mulai kerja di kantor baru, perjalanan-perjalanan dinas dan bulan Ramadhan yang datang beruntun bersamaan sukses membuat saya lupa kalau saya punya blog. Hahaha…. Sok sibuk.

Jadi begini ceritanya: Setelah baru seminggu di kantor baru, saya dapat tugas dinas ke Jakarta. Disampaikan secara mendadak dan durasinya cuma satu hari saja. Jadilah saya berangkat ke sana bersama pak bos.

Selama perjalanan dinas itu, smartphone saya gagal berfungsi. Zenfone Go yang menemani selama 3 tahun belakangan ini tidak berkutik. Tidak bisa digunakan browsing, tidak bisa pesan grab, buka google maps pun loading terus. Sedangkan untuk transfer data dalam jumlah kecil, seperti chat whatsaapp, masih bisa.

Entah kenapa…

Sebelum bekerja di tempat yang sekarang ini, saya bekerja secara remote. Istilah kerennya Home Office. Semua koneksi dan transfer dokumen saya handle langsung dari komputer dan dari wifi di rumah, tanpa lewat hp. Sedangkan di kantor yang sekarang, kerjaannya cukup dinamis. Cukup sering keluar kantor. Sehingga saya tak bisa terus-terusan pakai komputer & wifi, harus pakai hp dan mobile data.

Di sinilah saya putuskan, “Sudah saatnya ganti hp.”

Mau beli smartphone yang bagaimana?

Pilihan smartphone ada banyak sekali sekarang. Mulai yang canggih sampai yang abal-abal. Mulai yang mahal banget sampai yang terlalu murah. Semua ada.

Buat saya, smartphone yang keren bukanlah smartphone yang paling canggih, bukan juga yang paling mahal atau paling baru. Smartphone yang keren adalah yang tepat guna, yang fiturnya 100% relevan dan digunakan oleh si empunya.

Norak sekali rasanya kalau punya smartphone mahal tapi hanya digunakan untuk browsing, sosmed, selfie dan chatting. Sementara fitur-fitur lainnya yang canggih yang powerful yang membuatnya jadi mahal malah dibiarkan menganggur, tidak dipake karena memang tidak dibutuhkan. Bagaikan seorang Doktor yang dibayar mahal untuk kerja jadi cleaning service. Paham maksud saya? Paham dong.

Berangkat dari situ, saya mulai cari smartphone yang sesuai dengan kebutuhan saya. Hasilnya adalah, smartphone yang saya butuhkan ini ternyata tidak mahal. Smartphone kelas mid-end sudah sangat mencukupi. Masih setia dengan ASUS, saya akhirnya pilih Zenfone Max M2 untuk dibawa pulang. (Sudah kayak endorse aja haha). Dengan harga paling murah ada di kisaran 1,9jt saja, si max m2 ini sudah sangat cukup buat saya.

Karena ga suka selfie maka saya ga butuh kamera & layar yang kelewat bagus. Saya ga main game dan sosmed, jadi RAM 3gb sudah sangat cukup.

Memori penyimpanan juga tak perlu yang terlalu besar, soalnya dokumen2 sering saya pindahkan ke komputer & ke google drive, praktis memori smartphone cuma jadi tempat transit saja.

4G is a must. HP saya sebelumnya hanya support 3G dan 3G dulu lumayan ngebut, tapi sejak ada 4G jadi semakin lambat dan sering ngadat.

Saya ingin cari baterai yang gede, baterai si max m2 ini bisa tahan 2 sampai 3 hari di tangan saya. Bagus.

Stock Android! Si max m2 ini pakai stock android, alias android yang murni tidak dimodif aneh-aneh, tidak pakai launcher aneh-aneh. Terasa ringan, sederhana dan elegan khas google. Dan saya suka. Simple yet proper.

Jadi itu beberapa alasan saya meminang smartphone ini.

Aksesorisnya bagaimana?

Untuk menghormati desainer yang mendesan smartphone ini, saya tidak memasang casing sama sekali. Mereka, para desainer, sudah mendesain susah payah agar smartphone ini terlihat bagus dan enak digunakan. Kalau saya pasang casing, desain mereka jadi ketutupan dan ga seberapa berguna. The best experience menggunakan suatu smartphone cuma bisa dirasakan kalau kita biarkan smartphone itu apa adanya, tanpa ditutup-tutupi casing pelindung. Untuk melindunginya, saya pakai tas smartphone kecil alias smartphone pouch. Jadi kalau tidak dipakai, tinggal masukkan saja di pouch itu, aman deh. Masuk tas juga aman.

Meskipun sudah pakai corning gorilla glass saya tetep pasang screen protector di layarnya, buat jaga-jaga saja. Toh tidak ada ruginya, tidak ada drawback apapun.

Saya juga putuskan kalau saya tidak akan menginstall apps yang bisa membunuh waktu di smartphone ini. Jangan harap bisa menemukan fb, instagram, twitter, game, maupun youtube di dalam smartphone saya. Tidak ada. Apps marketplace juga tidak ada. Aplikasi chatting juga cuma ada whatsapp.

Noh, isinya cuma itu saja. Saya sebenernya sempet tergoda untuk menginstall quora, tapi kemudian saya hapus karena app quora bisa membunuh waktu.

Apps yang bisa membuat kita browsing mindlessly itulah yang saya sebut sebagai apps pembunuh waktu a.k.a time killer apps. Semua apps yang membuat kita scroll dan membuka dia terus-terusan tanpa tujuan, nah itulah time killer apps.

Saya agak reluctant juga menginstall wordpress sebenarnya, fitur readernya cukup tempting untuk scroll terus. Tapi karena pengguna wordpress termasuk jarang update, maka masih saya anggap aman.

Sejauh ini, smartphone baru ini sangat berguna. Semua koneksi lancar dan cepat. Saya juga sangat terbantu dengan apps yang berfungsi sebagai note & journal, karena banyak kerjaan yang harus direncanakan dan dicatat agar tidak lupa. Dokumen-dokumen yang dikirim lewat whatsapp juga bisa langsung saya review tanpa harus transfer ke komputer.

Cuma saya masih sering typo karena belum terbiasa dengan ukuran keyboardnya. Btw, tulisan ini ditulis melalui si max m2. Hahaha, tolong maklumi kalau banyak typo.

Kalau anda bagaimana? Apakah smartphone anda menunjang produktivitas ataukah malah menghancurkannya?

Taman Dalam Penjara

Ini awalnya adalah tulisan status saya di facebook. Karena dilihat-lihat agak sedikit panjang, rasanya layak juga dicopy di blog.

Ya sudah, saya copy kemari, haha.

– – –

Aturan-aturan syariat islam itu kalau dari luar terlihat seperti penjara. Banyak ini itu yang dilarang, banyak yang diatur-atur. Kelihatan sempit sesak bak penjara.

Tapi, begitu kita masuk ke dalamnya, wooah…!! Sebuah taman hijau sejuk yang luas. Bukannya merasa terkekang, tapi dada malah terasa lapang, hati terasa tenang. Beban-beban yang membelenggu hati terasa ringan atau hilang.

Perasaan bahagia, tenang & damai yang sulit dideskripsikan. Perasaan yang sukar dibayangkan oleh orang-orang yang tak pernah merasakannya secara langsung.

Karena itu, kasihan orang-orang yang lari dari syariat islam karena merasa takut akan dikekang & dibatasi. Mereka lari menjauh kemudian memutuskan untuk mencari sendiri kebahagiaannya dengan cara menuruti semua yang dirinya & nafsunya inginkan. Mereka tak mau dibatasi. My life, my rules.

Orang-orang yang seperti ini, mungkin mereka bisa tertawa & bersenang-senang, tapi mereka tak akan pernah merasakan kebahagiaan yang sebenarnya.

Yang paling parah, mereka akan jatuh dalam depresi. Sedangkan umumnya, mereka akan merasakan ada void, merasakan ada lubang, ada suatu kekosongan dalam hatinya.

Seumur hidupnya hilir mudik di atas muka bumi tanpa pernah mencicipi perasaan bebas lepas dan kebahagiaan yang hakiki.
Sungguh kasian.