Behind The Keyboard : Escapism (2)


Tulisan ini adalah bagian kedua dari tulisan self commentary mengenai quote yang berjudul “Escapism” yang bisa dibaca di sini.


Tak perlu datang ke diskotik atau club untuk tahu bagaimana keadaan di sana, apa saja aktivitas di sana. Cukup buka google kemudian cari tahu tentang bar/ diskotik/ night life/ club di Jakarta. Iya, di Jakarta, karena di sana kebanyakan mereka ini berada.

Musik volume keras, ruangan yang cenderung gelap remang-remang, rokok, minuman keras, beer, cocktail, vodka, dance, sosialita, gaul. Kira-kira kata-kata sekitar itulah yang akan kita dapatkan jika kita tanyakan pada google tentang club ini.

clubbing

Siapa target pasar mereka? Cukup dengan melihat daftar harga di menu mereka maka kita bisa dengan sangat mudah menyimpulkan, target mereka orang-orang kaya, atau dengan bahasa lebih halus, orang-orang kalangan atas dan menengah ke atas. Dan unsur biaya di sana bukan hanya biaya makanan atau minum saja, ada juga yang disebut FDC a.k.a first drink charge dan biaya open table atau yang sejenisnya. Intinya: mahal.

– – – – –

Saya sama sekali bukan psikolog, tidak punya sama sekali background pendidikan psikologi. Mungkin anda juga. Kita yang sama-sama awam tentang psikologi manusia saja bisa membuat semacam hipotesa mengenai club ini. Kira-kira apa tujuan yang ingin diwujudkan oleh desainer tempat semacam ini. Musik keras berdentum-dentum, ruangan remang-remang, orang-orang berjoget, banyak di antara mereka minum minuman keras dan mabuk.

Numbness.

Creating numbness, suasana semacam ini didesain untuk membuat mati rasa pada akal pikiran sehat bahkan pada perasaan manusia, membuat mereka melupakan sejenak beban dan masalah yang ada di luar sana. Suasana ini didesain agar orang-orang yang di sana bisa “gila-gila”an menghabiskan malam.

Dalam dunia medis, hal ini sangat mirip dengan fungsi anastesi, obat bius. Membuat mati rasa. Bedanya anastesi berfungsi secara fisik, club / diskotik bersungsi secara psikis.

Hanya orang yang mengalami rasa sakit yang mencari anastesi. Dengan analogi yang sama, hanya orang yang mengalami rasa sakit yang mencari numbness untuk perasaan mereka.

– – – – –

Kita memiliki istilah khusus untuk situasi ini:

Escapism, the tendency to seek distraction and relief from unpleasant realities, especially by seeking entertainment or engaging in fantasy.

Diambil dari google dictionary. Keinginan untuk mencari sesuatu yang bisa mengalihkan perhatian atau menghilangkan rasa sakit akibat kenyataan yang tidak menyenangkan, biasanya dengan cara mencari hiburan atau dengan membayangkan sesuatu – Escapism.

– – – – –

Karena orang-orang yang berbahagia tidaklah akan pernah lari dari kenyataan. Karena dalam kenyataan hati mereka tenang dan dada mereka terasa lapang, sehingga tidak perlu lari kabur menjauh. Mereka, orang-orang yang bahagia, mampu melihat dunia dalam bentuk yang sebenarnya. Sama sekali tidak perlu mencari fantasi atau membius hati.

Berbeda dengan orang-orang yang mencari bius di tengah club. Kenyataan bahwa mereka mencari jalan untuk sejenak menarik hati dari kenyataan adalah bukti bahwa ada sesuatu yang salah dalam hati mereka, mereka tak merasa tenang dan lapang dadanya, padahal ada rumah bak istana yang menanti kepulangan mereka padahal ada stok uang yang melimpah yang siap untuk memenuhi keperluan-keperluan mereka.

Anehnya, banyak dari kita ingin menjadi seperti mereka, yang sebenarnya tidak sebahagia yang kita kira.




Btw, saya kurang puas dengan tulisan ini. Masih belum tersampaikan dengan baik. Berharap ada sekuel yang bagus.


 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s