The Exam Classroom

exam

Dia membuka matanya, kemudian menutupnya kembali. Mengambil nafas panjang kemudian melepaskannya pelan-pelan. Dia menata hati dan pikirannya.

Dia tahu mengapa dia berada di ruangan ini. Ruangan yang terkadang nyaman terkadang tidak nyaman ini adalah tempatnya akan mengerjakan ujian.

Dia tahu bahwa ujian yang akan dia hadapi akan memakan waktu yang lama. Lama tapi tidak selamanya, akan berakhir saat waktunya berakhir. Dia paham bahwa soal yang dikerjakannya akan bervariasi antara yang mudah dan yang susah. Dia tahu dan bertekad mengerahkan semua kemampuan yang dimilikinya, benar-benar semuanya, hingga tak bersisa.

Dia membuka mata.

Soal mulai diedarkan. Penyelenggara ujian mengatakan bahwa setiap peserta ujian boleh membuka bukunya dan semua soal ujian tidak akan ada yang melenceng dari materia yang ada di buku. Pengumuman dari penyelenggara ujian ini adalah sesuatu yang bagus, tapi sepertinya banyak peserta ujian yang telah tenggelam dalam soal yang ada di tangannya masing-masing, tidak mendengarkan, hanya beberapa saja yang menyimak pengumuman itu kemudian tersenyum.

Dia memulai soal pertamanya, cukup mudah. Kedua, masih mudah. Ketiga dan seterusnya, jalanan mulai menanjak. Dia perlu memeras otaknya.

Beberapa saat berlalu, entah berapa lama tepatnya tidak ada peserta yang tahu, tidak ada jam dinding di ruangan itu. Dia tampak berkeringat. Dia telah melalui banyak soal-soal yang susah. Tangannya terasa sedikit lelah begitu pula kepalanya.

Satu soal susah terselesaikan.

Soal yang benar-benar susah telah menyambutnya tepat di nomor berikutnya. Dia kembali memejamkan matanya, mengambil nafas, menata pikirannya. Dia membuka matanya, menata pikirannya, kemudian melihat sekelilingnya.

Dia menyadari bahwa ruang ujiannya ini tidaklah dibatasi dinding, tidak ada tembok di keempat sisinya. Dia menengok ke atas, tiada atap dan nampaklah langit. Dia melihat soal susah yang sedang dikerjakannya. Dia menyadari bahwa soal itu dan semua soal lainnya yang telah dan akan dikerjakannya tidaklah berada dalam lembaran kertas.

Tidak ada tembok, tidak ada atap, tidak ada kertas soal.

Ah,

Dia menyadari bahwa dia tidak sedang ada dalam ruang ujian.Di a berada di tengah-tengah dunia, dan ujian masih terus berjalan. Dia membuka bukunya, berusaha mencari tahu bagaimana dia harus menghadapi ujiannya …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s