Dekorasi Kata


This post is full of personal preference. Heavily subjective.


Saya bukan chef yang punya pengetahuan luas mengenai dunia kuliner. Tapi saya punya selera dan bisa menegaskan makanan mana yang enak dan tidak enak, selera pribadi. Saya bukan ahli sastra & bahasa. Tapi saya punya selera soal tulisan dan bisa mengatakan mana yang nikmat dibaca dan mana yang tidak, juga berdasarkan selera pribadi.

Hari yang lalu, ada kesempatan barang sejam untuk mampir ke sebuah toko buku. Salah satu cabang dari toko buku terbesar di negeri ini. Pintunya kaca dan rak-rak bukunya berwarna coklat muda, dengan tas-tas belanja yang dihiasi huruf G besar. Huruf G BESAR.

Tiga perempat waktu kunjungan itu habis di sekitat rak buku populer dan rak sepuluh buku terlaris. Yah, sekadar penasaran dengan tren tulisan yang sedang laku di pasar buku mereka.

Ada buku-buku yang disegel plastik. Tapi juga banyak buku yang tidak di segel. Dari sejumlah buku sejudul yang ditumpuk ke atas, biasanya eksemplar paling atas dibiarkan tanpa segel. Mungkin sengaja untuk jadi sample yang dibaca di tempat.

Satu yang saya perhatikan, dari rak buku populer yang didominasi novel cinta remaja asal wattpad, para penulis buku-buku itu memiliki kecenderungan untuk mendekorasi kalimatnya dengan terlalu berlebihan. Yang dalam mata saya, kata-kata dekoratif yang mereka pasang itu malah sering kali menutupi konten utama berupa ide yang hendak disampaikan. Menjadi rumit, mungkin rumit itu dianggap keren,

Udara bertemperatur rendah yang menggigilkan tulang menyeruak ke dalam jaketnya…

Kalimat macam itu contohnya. Bukannya setting tempat dingin yang tergambar dalam imajinasi, kepala saya malah jadi berat saat membacanya. Terlalu berat. Terlalu banyak dekorasi.

Opini. Mendekorasi dengan kata bukanlah meletakkan kata-kata rumit dan random. Pola pikir bahwa kalimat yang keren adalah kalimat yang rumit kuranglah tepat. Kalimat yang keren adalah kalimat yang menyampaikan makna dengan baik. Kalimat yang keren adalah yang bisa mengantarkan makna yang dimaksud penulis dengan selamat dan tepat ke dalam kepala pembacanya.

Jika makna atau ide adalah sebuah masakan maka kata-kata dekorasi adalah garnish-nya. Ambil sebuah masakan yang berwarna merah. Maka bisa kita garnish dengan tomat atau buah cheri untuk semakin menegaskan warna merahmya. Atau letakkan potongan kentang goreng berwarna kuning keemasaan untuk merangsang selera. Keputusan ada di tangan chef. Asalkan jangan meng-garnish-nya dengan butiran putih garam yang akan merusak rasa. Dan jangan pula dengan seratus kuntum bunga yang membuat bingung orang yang nanti memakannya. Ini piring apa kok penuh bunga …

Ambil kata dekorasi yang sederhana, tepat, dan bermakna. Tak perlu memamerkan luasnya kosa kata jika nantinya berujung pada rusaknya makna atau beratnya kepala.

10 thoughts on “Dekorasi Kata

  1. Wah, saya pikir orang-orang akan suka pada pemilihan diksi yang beragam semacam itu. Saya selalu menganggap kosakata yang sedikit adalah kelemahan saya kalau saya sedang bikin cerita. Ya itu salah satu sebabnya cerita saya sulit untuk tuntas.

    Tapi baca ini saya kok jadi semangat, ya :> Mungkin karena sadar tidak semua orang sama dengan apa yang saya bayangkan.
    Trims!
    (Btw, masih heran yaa, kenapa saya selalu merasa tersesat baca tulisanmu bahkan yang ini :’>)

    Like

    1. Karena kamu sering membiarkan orang-orang bertanya-tanya melalui tulisanmu, maka saya izinkan kamu untuk bertanya-tanya tentang kata ‘tersesat’ itu.

      Saya kira cukup adil.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s