Negeri Bekas Jajahan

Negeri kita ini adalah negeri bekas jajahan. Lebih dari tiga ratus tahun dijajah. Itu artinya lebih dari sepuluh generasi nenek moyang kita ditindas dan direndahkan.

Selama rentang penjajahan itu, apa damage terbesar yang negeri kita alami? Dulu ketika masih SMP, di pelajaran sejarah dijelaskan bahwa para penjajah datang untuk mengeruk sumber daya alam negeri kita. Jadi damage terbesar adalah sumber daya alam kita yang dicuri besar-besaran.

Bukan. Damage terbesar bukanlah kuantitas sumber daya alam kita yang dicuri dan diangkut oleh para penjajah. Lalu apa?

Perhatikan lagi, kita dijajah selama sepuluh generasi lebih. Bayangkan jika anda adalah seorang anak, orang tua anda adalah pembantu yang tertindas, kakek nenek anda juga adalah pembantu yang tertindas, buyut anda juga, kaket buyut anda juga. Sementara teman anda adalah orang yang berasal dari keluarga yang normal tidak tertindas. Apa perbedaan paling signifikan antara anda dengan dia?

Mental. Mental anda dan mental teman anda akan jauh berbeda. Sepuluh generasi adalah waktu yang sangat cukup untuk mengubah mental suatu negeri. Para penduduk negeri bekas jajahan memiliki sifat mental yang khas, yaitu mental inferior.

Mental inferior ini sangat terlihat di masyarakat kita. Hek, tak perlu jauh-jauh bicara masyarakat, mental inferior ini ada dalam pikiran kita sendiri, generasi ketiga sejak negeri ini merdeka.

Kita cenderung minder saat bersaing dengan bule. Kita cenderung meng-glorifikasi luar negeri, menganggap apa yang mereka miliki adalah bagus dan wah. Kita cenderung apatis dengan kemampuan kita sendiri. Kita seringkali merasa lemah dan merasa tidak sanggup melakukan hal-hal besar. Secara default dalam pikiran kita, produk luar negeri adalah lebih bagus dibandingkan produk lokal. Dan lain-lain. Tak perlu mengelak. Saya yakin bahwa dalam hati anda tahu bahwa semua contoh di atas itu benar.

Lalu apa? Bagaimana cara memperbaikinya? Permasalah mental masyarakat seperti ini tidak akan bisa diselesaikan dengan cepat, ini adalah masalah intergenerasi, butuh beberapa generasi untuk menyelesaikannya.

Marilah kita mulai dengan sederhana. Caranya bukan dengan menjadi nasionalis buta. Tapi dengan cara mengangkat perasaan inferior itu dari kepala kita masing-masing. Berhenti merasa lemah. Kita sanggup melakukan hal-hal besar. Kita tidak puas dengan sesuatu yang remeh. Berhenti merasa lemah.

Hilangkan perasaan inferior itu. Berhenti sibuk dengan hal-hal yang remeh. Jadi versi terbaikmu. Optimis (jika saran-saran ini terdengar klise, tandanya anda memang benar benar memiliki mental inferios). Saat perasaan inferior itu hilang, maka secara otomatis semua perilaku dan cara berpikir anda akan berubah. Perilaku dan cara berpikir ini akan menular sedikit demi sedikit ke orang di sekitar anda. Dan akan menular dalam jumlah besar ke anak anda yang berada langsung di bawah didikan anda. Kemudian dari situ, akan menular ke yang lebih banyak orang lagi. Ke cucu. Ke cicit dan seterusnya. Harapannya dalam tiga atau empat generasi ke depan, mental inferior negeri ini bisa dihapus secarar sempurna. Semoga negeri kita belum hancur saat itu.

Jangan merasa lemah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s