Menggagalkan Hidup

Siapa yang ingin hidupnya gagal dan sengsara? Saya tidak ingin. Anda juga pasti tidak ingin. Saya juga yakin tidak ada seorangpun yang ingin. Karena kita sama-sama tidak ingin, maka mari berusaha agar hidup kita ini tidak termasuk di antara kehidupan yang gagal.

Tahukah anda, siapakah yang berpotensi paling besar menggagalkan hidup anda? Jawabannya bukan orang tua. Bukan guru. Bukan teman main. Bukan juga saya, apalagi dia. Bukan.

Yang memiliki potensi terbesar untuk menggagalkan hidup anda adalah diri anda sendiri. Diri anda sendiri. Lihatlah ke cermin, anda akan melihat wajah orang yang paling bisa menggagalkan hidup anda.

Mengapa bisa?

Karena diri anda adalah wadah sekaligus pemilik sifat-sifat. Dan ada tiga sifat yang menjadi sebab terbesar gagalnya dan sengsaranya hidup seseorang.

Merasa lemah. Ini adalah yang pertama. Sebab paling penting dalam gagalnya hidup seseorang nomor satu: merasa lemah. Perasaan lemah ini ada dua macamnya:

-merasa kalah sebelum mencoba. Orang macam ini sudah merasa mati sebelum maju ke medan perang. Selalu merasa tidak siap. Pernah tahu seorang laki-laki yang tidak berani melamar gadis impiannya karena takut ditolak? Inilah orang yang merasa kalah sebelum mencoba.

-merasa kalah setelah gagal sekali. Sudah bagus ia telah berani mencoba, tapi kemudian dia gagal dan jadilah ia merasa lemah dan kalah. Seperti mahasiswa yang mutung karena tugas akhirnya baru dibanting dosen sekali. Seperti orang yang putus asa karena lamarannya ditolak sekali. Sekali. Baru sekali. Tahukah anda bahwa orang-orang yang berhasil memiliki kebalikan dari sifat ini, mereka adalah tipe-tipe petarung. Sekali gagal, coba lagi. Gagal lagi, maju lagi. Tidak menyerah. Hingga ketika akhirnya mereka berhasil maka kegagalan-kegagalan itu menjadi kenang-kenangan indah. Dan mereka orang-orang yang berhasil bangga dengan banyaknya kegagalan yang mereka alami. Orang yang berhasil adalah orang yang tidak menyerah dalam hal-hal yang bermanfaat.

Cita-citanya rendah. Sebab gagalnya hidup yang kedua adalah cita-cita yang rendahan, remeh. Tidak memiliki target dan harapan-harapan. Orang-orang yang bercita-cita rendah maka hidupnya hanya akan berurusan dengan hal-hal yang biasa saja. Hal-hal yang luar biasa tidak akan sudi menghampirinya.

Orang yang bercita-cita rendah maka dia hidup seperti hewan. Menerima hidup apa adanya tanpa ada ambisi menjadi lebih baik. Orang ini hidupnya habis untuk makan – minum – buang air – makan – minum – buang air – … – lalu mati. Baginya yang penting adalah hidup, bagaimanapun keadaannya. Tidak apa-apa bodoh. Tidak apa-apa miskin. Tidak apa-apa ini. Tidak apa-apa itu. Sama sekali tak memiliki cita-cita tinggi. Tidak adanya cita-cita tinggi macam ini membuat dia malas berusaha, tidak mengerahkan semua kemampuan dan potensi yang dimilikinya. Rendah cita-citanya.

Tidak bisa mengambil keputusan. Sebab gagalnya hidup yang ketiga adalah ketidakmampuan mengambil keputusan. Termasuk di dalamnya adalah orang yang terlalu banyak pertimbangan. Terlalu banyak. Karena peluang emas itu sering kali menuntut keputusan yang jelas dan cepat. Orang-orang yang lambat atau tidak bisa mengambil keputusan tidak akan mampu meraih kesempatan itu, lewat sia-sia.

Orang ini adalah orang yang bingung terus-terusan. Tak bisa memutuskan. Akhirnya tak bisa menghasilkan karya apa-apa karena kesempatan yang datang lewat sia-sia. Ada tawaran bisnis, mikirnya terlalu lama. Ada tawaran menikah, mikirnya terlalu lama. Ada tawaran beasiswa mikirnya terlalu lama. Terlalu lama.

Ketiga sebab di atas: merasa lemah, cita-cita yang rendah, dan tidak mengambil keputusan, akan berujung pada satu tujuan yang sama: penyesalan.


Tulisan ringkas di atas saya susun dengan referensi muqoddimah sebuah kitab berjudul Syarah Al Wasail Al Mufidah Ila Hayati Saidah. Dengan mereferens juga pada tambahan keterangan-keterangan yang di sampaikan oleh Ustadz Aris Munandar saat membahas kitab ini.

Sejujurnya, saat mengkaji bagian itu tubuh saya panas dingin rasanya. Karena tiga sifat itu saya rasakan benar-benar nyata ada dalam diri ini. Saya adalah orang yang takut-takut jika disuruh maju ke depan untuk mengajar atau naik ke mimbar, merasa lemah. Saya mutung saat masih kuliah dulu tugas yang saya kerjakan susah payah selama beberapa bulan dicoret-coret sampai robek oleh dosen yang marah karena tidak puas dengan hasil pengerjaannya. Saya yang merasa cukup dengan kajian kitab biasa dan tak ikut bermulazamah khusus dengan ustadz-ustadz, padahal ada kesempatannya, merasa puas dengan sesuatu yang remeh. Dan entah berapa banyak tawaran bisnis dan kerja sama usaha yang lewat begitu saja karena ragu-ragu kelamaan mikir.

Menjumpai kitab dan pembahasan ini adalah sebuah titik balik besar dalam hidup. Karena terpampang jelas apa kesalahan yang saya miliki dan masih sangat mungkin untuk memperbaikinya. Dan ketika sedikit demi sedikit diperbaiki, ada perubahan besar yang nyata terasa. Dunia terasa luas, peluang-peluang dan kesempatan mulai terlihat dan bermunculan. Dan saya berusaha tidak lagi mengulang kesalahan-kesalahan yang lalu.

Kalau anda bagaimana?

5 thoughts on “Menggagalkan Hidup

  1. Kalau saya yakin bahwa hidup itu berproses. Saya juga suka gemetar kalau harus maju ke depan dan memimpin kelas yang isinya beragam orang, mulai dari yang waras, pintar, nakal, pemalas, pemberontak, pendiam dan cerewet. Tapi kemudian saya belajar untuk mendengarkan mereka dan mulai melakukan hal baik yang bisa dilakukan.

    Merasa lemah dan minder pun pernah dirasakan. Bahkan hingga sekarang. Apalagi kalau bertemu orang yang prestasi dan ilmunya jauh dan jauh sekali di atas kita. Di situ saya sadar saya bukanlah apa-apa. Tapi saya juga sadar kalau ini artinya saya harus memperbaiki diri.

    Dulu juga saat kuliah dan bimbingan ke dosen untuk skripsi, saya bukan hanya pernah dimarahi atau dicoret draftnya tapi pernah dikatakan bodoh karena selalu gagal untuk memuaskan keinginan dosen pembimbing dalam hal isi skripsi harua seperti yang ia arahkan.

    Gagal dalam hidup memang wajar dan lumrah terjadi. Tetapi gagal terus dalam hal yang sama itu sih kurang ajar. Jangan sampai kita seperti keledai yang bisa terperosok ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya.

    Tetap semangat, akhi. Refernsi kitabnya banyak ya. Kitab yang disebutkan dalam post ini pun belum pernah saya baca.

    Terima kasih ilmunya

    Liked by 2 people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s