3 Versus 1

Dia sedang merasa sumpek. Teman-temannya mulai membawa mobil baru, sedangkan ia masih belum memiliki mobil. Ia ingin punya mobil juga, yang bagus seperti milik teman-temannya. Hatinya terasa sumpek jika ia belum bisa memilikinya.

Dia pun berusaha keras, terengah-engah mencari cara mengumpulkan uang untuk membeli mobil baru. Rasanya ia  tidak sabar dan ingin cepat-cepat. Hingga akhirnya dia pun bisa membeli mobil baru yang bagus. Kredit sih, tapi tidak apa-apa, teman-temannya yang lain juga  beli lewat kredit. Dia merasa senang karena merasa tidak ketinggalan dengan teman-temannya.

Setelah memiliki sebuah mobil, ia mengira hidupnya akan tenang dan bahagia. Ternyata kenyataannya tidak. Dia merasa sumpek lagi. Sumpek karena alasan yang berbeda, ia khawatir terjadi apa-apa dengan mobil barunya yang bagus.

Hatinya tidak tenang. Khawatir kalau-kalau nanti mobilnya diserempet orang lalu catnya terkelupas. Dia khawatir kalau meninggalkan mobilnya di parkiran, takut-takut ada yang membobolnya. Khawatir kalau mobilnya dipinjam, jangan-jangan nanti yang pinjam kecelakaan. Kalau dia melihat ada orang yang dekat-dekat mobilnya ia merasa deg-degan, jangan-jangan dia punya niat buruk dengan mobilnya. Dia juga khawatir kalau-kalau mobilnya rusak karena salah maintenance. Khawatir ini, khawatir itu, di sini khawatir, di sana khawatir.

Ternyata setelah memiliki mobil bagus, ia tak sebahagia yang dia kira.

Sampai akhirnya pada suatu saat, apa yang dia khawatirkan terjadi juga. Mobilnya rusak karena kecelakaan. Rusak parah, hancur, tak lagi bisa digunakan. Mobil bagus yang dia bangga-banggakan sekarang telah tiada. Kenangang-kenangannya selama memiliki mobil itu membuatnya sedih. Dia kembali merasa sumpek.

rect4485


Sadarkah kita bahwa dalam satu kesenangan duniawi akan selalu ada tiga kesumpekan yang mengiringinya. Sumpek saat belum mampu mewujudkan kesenangan itu. Sumpek saat telah memilikinya karena takut kehilangan. Sumpek saat kesenangan itu telah benar-benar hilang.

Karena itu janganlah menjadi orang yang hatinya tertambat murni pada kesenangan dunia, jangan menjadi orang yang cita-cita tertingginya adalah tentang dunia. Orang semacam ini sungguh akan rugi, karena sumpek yang akan dia rasakan tiga kali lebih banyak dibandingkan kesenangan yang didapatkannya.

16 thoughts on “3 Versus 1

  1. Semoga hati kita tertambat murni hanya pada Allah dan akhirat ya, Mas. Jadi, hati gak tenang cuma karena satu hal aja. Yaitu, karena mengkhawatirkan bekal akhirat kita.

    Orang yang mengkhawatirkan akhirat itu sangat beruntung. Rasa khawatirnya terkait kondisi bekal akhirat, dapat pahala. Usaha kerasnya untuk mempersiapkan bekal akhirat, dapat pahala. Dan balasan akhirnya mendapat Surga, Insya Allah.

    Liked by 1 person

  2. Dunia cukup digenggam, jangan ditaruh hati.
    Kalau hati sumpek, bisa jadi banyak hal remeh tentang dunia yg berjejalan di sana.
    Terima kasih tulisannya, Mas.

    Liked by 1 person

  3. Mungkin maksud dari tulisan ini adalah tetap mengutamakan urusan agama tetapi untuk menopang urusan agama itu terkadang juga btuh di bantu dengan urusan dunia 😞 . Semisal mengejar pengen beli rumah yang gede bagus dengan tujuan rumah itu mau dijadiin asrama atau rumah quran buat anak” yang ingin ngafal quran sekalian diadain penginapan khusus tahfidz d sana. Cmiiw 😞

    Like

    1. hmm…saya suka feedback macam ini. Jadi punya bayangan tentang impresi yang pembaca dapat dari tulisan saya.
      Arah tulisan ini memang seperti yang mbak bilang..hmm.. tapi agak terlalu dangkal. Ada makna yang jauh lebih dalam lagi.
      Tapi tidak salah kok kesimpulannya

      Liked by 2 people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s