Newbie Masjid

Salah satu pemandangan yang selalu terjadi di Bulan Ramadhan adalah bertambah banyaknya jamaah masjid. Ini sangat nyata terlihat pada awal-awal Ramadhan. Jamaah sholat subuh tambah banyak, sholat dhuhur juga tambah banyak, ashar juga tambah banyak, apalagi sholat maghrib dan isya’, jauh lebih banyak dibandingkan sebelum Bulan Ramadhan, alhamdulillah.

Tetapi menjelang pertengahan bulan seperti sekarang ini, jamaah sholat selain maghrib dan isya’ mulai kembali seperti normal. Yang hadir hanya wajah-wajah lama. Sholat maghrib dan isya’ meskipun jamaahnya juga mulai berkurang tapi masih bisa dikategorikan banyak.

Mengenai banyaknya jamaah sholat di masjid ini, ada satu hal yang mau tidak mau menarik perhatian saya. Satu hal yang saya perhatikan yaitu jamaah masjid wajah-wajah baru itu biasanya punya ciri-ciri khusus yang membedakannya dari orang-orang yang telah lama sholat jamaah di masjid. Kita sebut saja mereka sebagai jamaah newbie. Ciri-ciri itu membuat kita langsung tahu bahwa itu adalah jamaah newbie.

Btw, tidak ada salahnya menjadi jamaah newbie. Malah itu adalah hal yang bagus. Mungkin mereka menjadikan Bulan Ramadhan ini sebagai momen untuk berubah dan berbenah, dari orang-orang yang jauh dari masjid menjadi orang yang rutin sholat jamaah di masjid.

Jika anda di antara pembaca ada juga yang jamaah newbie, mungkin tulisan ini bisa anda jadikan semacam insight agar tidak awkward atau salah adab saat berada di masjid.

Ciri pertama yang sering kali saya perhatikan dari jamaah newbie adalah: salah kostum. Salah kostum saat sholat jamaah di masjid. Sholat merupakan ibadah yang sangat penting, maka harusnya memakai pakaian yang sopan dan bagus. Seringkali ditemui jamaah newbie yang sholat dengan hanya memakai celana jins dan kaos oblong. Yang lebih parah lagi kadang ada yang memakai celana pensil.

Nah jika anda jamaah newbie, jangan lakukan hal ini. Pilihlah pakaian yang sopan dan rapi sesuai dengan adat masyarakat setempat. Jins dan kaos itu terlalu kasual, dan dianggap bukan pakaian yang bagus sopan di masyarakat kita. Bahkan saat kuliah saja sering kali dilarang pakai jins dan kaos oblong.

Ada banyak pilihan pakaian sopan dan bagus yang diakui oleh masyarakat kita. Bisa berupa baju koko, kemeja koko, kemeja batik, gamis, bahkan jubah. Untuk bawahannya, yang dianggap sopan di masyarakat kita adalah bisa berupa celana bahan ataupun sarung. Jangan lupa juga pakai songkok atau peci, agar terlihat semakin rapi.

Saya sendiri jika ke masjid lebih suka pakai kemeja koko lengan pendek, sarung, & songkok nasional. Terlihat rapi, sopan, dan merakyat. Gamis panjang atau jubah hampir tidak pernah saya pakai di sini, karena masih dianggap asing oleh orang-orang kampung. Pakaian terbaik adalah pakaian yang merakyat, tidak mencolok di tengah-tengah masyarakat asalkan masih memenuhi syarat-syarat syar’i pakaian. Tapi meskipun hanya dengan penampilan begini saya sering dikira ustadz, sering tiba-tiba ditodong disuruh menjadi imam. Kadang juga di jalan disapa dan disalami orang dengan dipanggil pak ustadz. Padahal saya rasa-rasanya tidak punya tampang ustadz atau aura ustadz. Aneh.

Ciri selanjutnya yang sering saya perhatikan di jamaah newbie adalah: tidak bisa membuat shof. Sering kali mereka kacau saat menyusun shof. Pecah-pecah. Sering kali tidak lurus dan rapat. Jika anda jamaah newbie, maka saat menyusun shof, pastikan anda memulai shofnya dari tengah, dari belakang imam. Jangan mulai dari pojok kanan atau pojok kiri. Perhatikan dulu shof depannya, apakah masih ada yang kosong ataukah sudah penuh. Jika masih ada yang kosong jangan sekali-sekali membuat shof baru di belakangnya. Isi dulu itu tempat yang kosong.

Lalu saat mengisi shof, isi tepat di samping jamaah lain. Jangan memberi sela satu atau dua tempat kosong. Dan jangan lupa luruskan dan rapatkan, tidak perlu takut jika kaki atau bahu anda bersentuhan dengan jamaah lain. Kadang ada orang yang sepertinya sangat anti tidak mau bersentuhan. Bersentuhannya anda dengan orang lain di kanan dan kiri itu menandakan bahwa shofnya rapat, jadi tidak mengapa, asalkan tidak bersesak-sesakan berlebihan. Dan ingat, yang dirapatkan itu adalah jamaah sholatnya, bukan sajadahnya. Yang rapat itu orangnya bukan sajadahnya. Tidak apa-apa kaki anda masuk area sajadah orang lain, atau ada kaki orang lain masuk ke arean sajadah anda. Memang begitu seharusnya.

Lalu jamaah newbie biasanya tidak tahu bahwa tidak boleh lewat di depan orang yang sedang sholat. Jika ada orang yang sedang sholat, maka area antara tempat dia berdiri dan tempat sujudnya tidak boleh dilewati. Jika anda butuh untuk lewat, maka carilah rute lain atau tunggu sampai orang itu selesai sholat. Jangan sekali-sekali lewat di depan orang yang sholat. Ketika anda ingin sholat sunnah, agar tidak dilewati orang lain, pilihlah tempat-tempat semacam di belakang tiang atau tepat menghadap dinding atau di belakang orang lain. Dengan adanya penghalang di depan anda maka orang lain tidak akan lewat. Penghalang semacam ini disebut sutroh.

Jika ada orang yang kelihatannya akan melintas di depan anda yang sedang sholat, anda boleh menghentikannya dengan cara menjulurkan tangan atau semacamnya.

Selanjutnya, jamaah newbie sering tidak tahu bahwa jamaah harus segera mengikuti gerakan imam. Misalnya saat takbirotul ihrom, segeralah ikuti, jangan ngobrol dulu. Jika anda masuk masjid dan ternyata imamnya telah turun ruku’ atau sujud maka segeralah ikuti, tidak perlu menunggu imam berdiri lagi. Fyi, jamaah dihitung mendapatkan satu rokaat jika dia mendapatkan ruku’ bersama imam. Jadi, jika anda masuk masjid, ternyata imam sedang sujud, maka anda langsung ikut sujud tapi anda tidak dihitung mendapatkan rokaat itu. Bisa dipahami kan? Belum paham? Ok, kita ambil contoh kasus. Anda masuk masjid untuk sholat maghrib, ternyata imam sudah sujud rokaat pertama, maka anda langsung bergabung untuk sujud, tapi anda tidak dihitung mendapatkan rokaat itu, saat nanti imam salam anda harus menambahkan satu rokaat lagi. Mudah kan?

Ciri terakhir yang sering saya amati pada jamaah newbie adalah gerakan sholat yang terlihat kaku, grusa-grusu, dan tidak nyaman. Beda dengan jamaah yang memang rutin sholat jamaah, gerakan mereka terlihat mantap, elegan dan nyaman. Untuk mengatasi ini, caranya mudah. Anda hanya cukup tenang ketika sholat dan ketika membaca bacaan sholat, tidak perlu buru-buru, santai saja dan nikmati. Orang-orang kita punya tendensi untuk ngebut saat membaca bacaan-bacaan sholat, akhirnya sholat mereka terlihat grusa-grusu alias tidak tuma’ninah. Santai saja. Nikmati dan renungkan maknanya, maka nanti gerakan anda insyaAllah akan jadi nyaman juga.

Nah itu sedikit tentang jamaah newbie. Semoga bermanfaat bagi anda jamaah newbie yang membaca tulisan ini. Dan besok anda bisa pergi ke masjid like a pro. Hahaha. Jangan berhenti sholat berjamaah di masjid ya.

11 thoughts on “Newbie Masjid

  1. Anjir, Jama’ah Newbie hahaha. Bisa bisa bisa. Keren nih tema tulisannya.
    Nanti tulis juga dong request bang; yang ini kan jama’ah newbie, nah nanti imam “end fast”. Bismillah nyampe amin cuma 5 detik 😀

    Liked by 1 person

  2. Tulisan menarik. Tapi ini utk j5amaah newbie pria ya. Yang perempuan jauh lebih rumit…yg bs dibagi disini mgkn trik supaya nggak dilangkahin saja yaitu jangan mepet dekat pintu masuk atau tempat mukena. Lebih baik cari sisu yg berlawanan..

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s