Cerita Bodoh

Ketika itu saya masih SMA, masih anak ingusan, sekarang masih ingusan sih meskipun sudah bukan anak-anak lagi. Bersama beberapa teman sekolah, kami mengikuti sebuah kompetisi kimia. Setelah lolos seleksi regional, kami lanjut ke babak utama yang diadakan di kampus di Surabaya. Di Unair kalau ga salah ingat, atau ITS ya? Unair deh sepertinya. Yang di ITS lain lagi ceritanya.

Setelah sampai di sana, kami berpencar masuk ke ruang masing-masing. Pendek cerita, kami diminta mengerjakan soal. Tidak jauh beda dengan saat seleksi regional, hanya saja soalnya levelnya lebih tinggi. Diberi waktu beberapa jam. Saya kerjakanlah soal-soal itu. Sampai pada satu soal. Soalnya tidak panjang, sangat straight forward, hanya sekitar dua baris yang terbaca dengan sekilas pandang saja. Saya merasa ada yang aneh dengan soal itu. Data yang diberikan tidak cocok dengan apa yang ditanyakan. Mikir beberapa lama.

Hmm…hmm… Kesimpulan: soal ini salah. Saya tidak bisa berlama-lama di soal itu karena waktu yang diberikan sangat mepet dengan jumlah soal yang banyak.  Ok, fix, saya anggap soal ini salah. Move on ke soal lainnya. Hingga akhirnya waktu yang diberikan habis dan kita kumpulkan lembar jawabannya.

Sambil menunggu pengumuman, saya dan teman-teman lain yang tadi berada di ruangan berbeda berkumpul lagi. Di tempat duduk di taman. Sambil ngobrol-ngobrol santai dan makan kue yang diberi panitia.

Topik obrolannya seputar soal-soal tadi. Ternyata teman-teman yang lain juga menyadari satu soal tadi. Pendapat mereka sama dengan saya, data yang diberikan tidak cocok dengan apa yang ditanyakan. Jadilah ini bahan guyonan di antara kita. “Siapa ini yang bikin soal?”, “Kompetisi level nasional bisa salah ngasih soal.”, “Wah parah panitianya.”. Berkisar itulah komentarnya. Intinya, ini yang buat soal bodoh, buat soal bisa ga match begini…

Sekitar setengah jam kemudian.

Masih di tempat yang sama, di tempat duduk di taman, salah seorang junior kami ada yang membawa buku tebal yang isinya adalah kumpulan soal olimpiade kimia. Karena bosan. Iseng kita buka-buka sambil santai. Murni iseng untuk mengisi waktu luang bukan untuk belajar. Hingga sampailah kami di tengah buku itu.

Dan apa yang kita temukan?? Sebuah soal yang sama persis dengan soal yang kita anggap salah tadi. Persis sama. Hanya beda angka. Dilengkapi dengan pembahasan panjang cara penyelesaiannya. Data yang kita anggap tidak match itu ternyata bisa dikonversi dengan cara yang kita sama sekali tidak tahu. Sama sekali. Tidak ada satupun dari kami yang tahu. Padahal teman-teman saya ini termasuk anak-anak level tertinggi di pelajaran kimia di sekolah. Tidak ada satupun yang tahu. Itu di luar materi yang kita pelajari di sekolah.

Soal yang kami anggap salah itu ternyata sebuah soal yang legit. Dan panitia sama sekali tidak salah meletakkan soal itu. Panitianya sama sekali tidak bodoh. Yang bodoh selama ini ternyata adalah kami. Menyadari hal itu, kami hanya tersenyum kecut saja. Diam & tidak lagi banyak berkomentar.


Cerita di atas terjadi di jaman awal-awal 3G, belum ada smartphone android. Internet masih susah. Sedangkan sekarang telah memasuki jaman 4G dan fiber optik. Internet sudah mudah diakses. Melalui internet, saya menyadari bahwa ternyata ada banyak sekali -BANYAK SEKALI- orang-orang yang seperti saya. Orang yang merasa cerdas  berilmu padahal kenyataannya tidak.

Dalam bahasa arab, hal yang seperti ini disebut jahil murokkab. Jahil artinya orang yang bodoh. Murokkab artinya bersusun, bisa juga diartikan bertumpuk. Sehingga artinya adalah ‘orang yang bodohnya bertumpuk-tumpuk’. Yang pertama dia bodoh karena dia tidak tahu mana yang benar. Kemudian dia tidak tahu bahwa dia sebenarnya bodoh. Kebodohan yang bertumpuk-tumpuk.

Sering ditemui di media-media sosial. Terutama di kolom komentar youtube. Kadang ada video ceramah ustadz, membahas tentang suatu hukum syar’i. Para orang jahil yang menontonnya ada yang merasa tidak sreg, merasa tidak cocok, atau gagal paham. Kemudian mulailah mereka menulis komentar:

“Menurut saya tidak begitu. Ustadz mending belajar lagi.”

“Yang bener aja, masa’ begitu?”

“Sepertinya ustadz salah. Mohon belajar lagi.”

“Jangan asal ngomong, belajar lagi sono.”

“Ustadz macam apa ini?!?!”

“Woiii ustadz kok goblok….”

“@$(%(&*@(*$^@^$(@*&*&%$@…”

Pernah menjumpai yang seperti ini? Pasti pernah. Ada banyak berserakan di youtube, facebook, atau di medsos-medsos lainnya. Atau jangan-jangan anda adalah salah satu pelakunya? Kalau iya, ijinkan saya menertawakan anda, hahahaha…

Jika anda sedang bersama dengan seorang profesor matematika dan sama-sama mengerjakan sebuah soal. Kemudian jawaban akhir anda ternyata berbeda dengan jawabanya si professor, apakah anda akan berkata padanya, “Mending profesor belajar lagi?” Tidak kan? Mengapa tidak? Karena yang butuh belajar lagi adalah anda, bukan si profesor.

Jika anda menyimak sebuah tulisan atau ceramah seorang ustadz doktor lulusan Universitas Islam Madinah yang membahas tentang sebuah hukum syar’i lengkap dengan dalil-dalilnya dan ternyata anda merasa tidak cocok . Well, ada kabar buruk buat anda: bahwa kemungkinan sangat besar yang benar adalah sang ustadz dan yang salah adalah anda.

Ustadz tersebut menghabiskan waktu yang panjang untuk belajar, sibuk menelaah kitab-kitab, menghafalkan al-Quran dan hadits, belajar berbagai ilmu alat, dan lainnya. Sedangkan anda sibuk mencari uang, scroll twitter, cuci mata dengan selfie-selfie cewek cantik di instagram, ngobrol haha hihi, nonton drama korea, travelling, tiduran, gelatakan dengerin musik, dan lainnya. Jika ada perselisihan antara anda dengan si ustadz dalam masalah hukum syar’i, maka hampir dipastikan anda-lah yang salah.

Meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa ustadz juga salah. Ustadz juga manusia. Biasanya, jika ada ceramah yang salah akan ada ustadz lain yang selevel dengannya atau yang ilmunya dekat dengannya mengingatkan. Kemudian, ustadz yang diingatkan itu akan menelaah lagi. Jika memang salah, maka dia akan meralat. Jika setelah menelaah, ustadz itu terap merasa benar, maka ia akan mengeluarkan bantahan ilmiah untuk teman yang mengoreksinya. Saling koreksi & saling membantah ini wajar terjadi di dunia ilmu di antara para ulama. Tentu saja semuanya berjalan dalam tataran ilmiah dan penuh adab. Perdebatan ilmiah macam ini seringkali menjadi hal yang menarik untuk disimak.

Ok, kembali ke topik.

Intinya adalah: mawas dirilah ketika berhadapan dengan para pemilik ilmu. Apalagi jika anda bukanlah seorang spesialis dan bukan termasuk orang yang berilmu. Anda harus super hati-hati, rendah hati, dan tidak sok pintar ketika berada di bidang yang menjadi keahlian mereka. Di dunia nyata, maupun di dataran maya. Jangan menjadi netizen bodoh yang sok pintar alias netizen jahil murokkab.

Jangan lupa juga untuk terus belajar karena kemuliaan itu hanyalah milik orang-orang yang berilmu. (/*Sebenarnya masih ada yang ingin saya sampaikan tentang ini, tapi karena sudah terlalu panjang kita cukupkan dulu sampai di sini)

block

Mojosari, 28 Juli 2018,

di bawah purnama,

signature

twitter instagram

twitter | instagram

 

10 thoughts on “Cerita Bodoh

  1. Iya saya suka prihatin lihat komentar di sosmed ustad. Banyak yang sok tahu terus menghujat.

    Terus kalau misalnya sudah tahu ustadnya punya mazhab berbeda, ya iyalah pasti pendapatnya berbeda dengan mazhab lain

    Like

  2. Bagus sekali tulisannya mas, sy setuju.
    Sy mmg sering prihatin jika baca komen2 di internet dg mudahnya para netizen mengumpat atau mencaci org lain termasuk pd ustadz atau pemerintah.
    Seakan2 mereka itu org plng pintar dan paling baik hmm

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s