Sumbangan Bencana

Beberapa hari yang lalu saudara-saudara kita di Lombok dan sekitarnya diuji dengan bencana alam. Gempa bumi 7 SR dan ratusan gempa susulan memakan banyak korban jiwa dan korban materi. Entah berapa banyak rumah-rumah yang runtuh rata dengan tanah. Semoga mereka diberi kesabaran dan ganti yang lebih baik, amin.

Menanggapi terjadinya bencana itu, saya menemui ada orang-orang yang mengumpulkan sumbangan untuk disalurkan ke sana. Yang saya lihat, ada orang yang membawa-bawa kardus di pinggiran jalan. Pemandangan ini mengingatkan saya ketika zaman sekolah dulu.

Ketika zaman sekolah, SMP dan SMA, setiap kali ada bencana alam besar, pengurus OSIS akan berkeliling ke kelas-kelas sambil membawa kardus atau membawa kantong. Mengumpulkan sumbangan. Sumbangannya boleh berupa uang tunai, obat-obatan, atau pakaian layak pakai. Yang menyumbangkan uang bisa langsung dimasukkan di kardus atau kantong yang mereka bawa. Sedangkan yang ingin menyumbangkan obat atau pakaian layak pakai bisa dibawa keesokan harinya dan diletakkan di ruang OSIS. Setelah terkumpul, sumbangan itu dikirimkan ke lokasi bencana, entah bagaimana caranya. Saya bukan pengurus OSIS, jadinya saya tidak pernah tahu bagaimana cara mengirimkannya. Apalagi dulu, jasa pengiriman logistik belum booming seperti sekarang. Pokoknya, kami yang bukan pengurus OSIS tahunya beres. Sumbangan terkirim. Simpel. Sederhana.

Sederhana kan? Tinggal berikan sumbangan uang atau barang ke OSIS, kemudian diantarkan ke pengungsi di lokasi bencana. Sederhana.

Sederhana?

Tidak sederhana ternyata. Pengumpulan sumbangan di sekolah memang sederhana. Tapi distribusi logistik dan sumbangan bencana sama sekali tidak sederhana.

Saya mengalami sendiri menjadi orang yang mengorganisir sumbangan untuk bencana alam dan saya menyimpulkan bahwa hal itu tidak sederhana.

Pada tahun 2010, terjadi bencana alam erupsi gunung Merapi. Kebetulan saat itu saya sedang tinggal di Jogja. Meskipun saya putra asli Mojopahit, tapi saya sempat beberapa lama tinggal di wilayah kekusaan Kraton Jogja. Yah..untuk ngilmu dan menambah pengalaman tinggal di kerajaan tetangga-lah. Padahal di Mojopahit saya tidak pernah merasakan bencana alam, tapi begitu tinggal di Jogja saya jadibisa merasakan gunung erupsi, hujan pasir, banjir lahar, puting beliung, gempa bumi, …ckckck

Saat terjadi erupsi Merapi itulah saya terlibat untuk menjadi relawan bencana bersama teman-teman yang lain. Saya tidak turun langsung di lokasi pengungsian karena kebagian tugas untuk stand by di posko bantuan. Dari posko bantuan inilah sumbangan-sumbangan diorganisir.

Jalannya sumbangan bencana alam sama sekali tidak sederhana. Butuh organisasi yang rapi dan komunikasi-koordinasi- yang bagus. Di posko bantuan, sumbangan orang-orang ditumpuk dan didata. Ini adalah kerjaan saya waktu itu. Ada berapa banyak barang ini, barang itu, dll. Mendatanya tidak gampang karena sumbangan mengalir terus dan sangat dinamis, keluar-masuk. Belum lagi kondisi yang tidak kondusif. Debu dan pasir akibat erupsi dimana-mana. Harus pakai masker karena udaranya berdebu parah. Rambut lengket. Baju kotor. Ga bisa nyuci dan njemur baju. Laundry tutup. Warung-warung tutup. Susahlah pokoknya.

Posko bantuan harus selalu stay in touch dengan barak pengungsian. Barak pengungsian tidak hanya satu, ada banyak dan terpisah-pisah jauh. Selalu koordinasi, siang dan malam. Tujuannya adalah untuk mengetahui mereka butuh logistik apa. Setelah tahu apa butuhnya dan berapa banyak butuhnya, barulah dikirimkan barang-barang yang ada di posko bantuan sesuai dengan request dari barak pengungsian. Mobil pick-up mengantarkan silih berganti. Kami di posko bantuan menyiapkan dan menyortir barang-barang dan memisahkan masing-masing sesuai dengan tujuannya. Oh iya, posko bantuan juga tidak cuma satu, ada banyak. Makanya harus terus koordinasi agar tidak saling bertumpuk.

Yang jadi masalah adalah, orang-orang yang menyumbang seringkali menyumbang barang semau mereka. Contohnya OSIS sekolah atau organisasi/perkumpulan. yayasan masyarakat. Mereka sering kali hanya menyumbang apa yang mereka mau sumbangkan. Bukan menyumbang apa yang sedang dibutuhkan. Sumbangan baju-baju bekas ada banyak menumpuk, padahal para pengungsi tidak butuh baju sebanyak itu. Yang banyak mereka butuhkan malah pakaian dalam, pembalut, bumbu-bumbu untuk dapur umum, dsb. Malah barang-barang yang dibutuhkan kadang tidak ada yang menyumbang. Dalam kondisi ini, sumbangan uang tunailah yang dialihrupakan menjadi barang-barang itu. Oleh karena itu, bagi kami di posko bantuan, sumbangan yang paling menyenangkan adalah sumbangan uang tunai. Selain mudah didata, tidak makan tempat, uang tunai juga mudah untuk diubah menjadi barang lain yang dibutuhkan. Tepat guna.

Tapi itu masih lebih mending, meskipun barang sumbangannya tidak dibutuhkan, tapi mereka masih menyalurkannya lewat posko bantuan. Sehingga sumbangan mereka bisa diorganisir lebih baik.

Yang tidak mending adalah orang-orang yang membawa langsung sumbangannya ke barak pengungsian. Meskipun niatnya bagus, tapi hal ini sebenernya kurang tepat.

Waktu itu ada sumbangan datang dengan truk besar (atau bis ya? agak lupa). Mereka entah dari organisasi/yayasan mana, yang pasti dari luar daerah dan sepertinya tidak menguasai medan. Truk itu datang langsung ke salah satu lokasi pengungsian, membawa barang-barang bantuan. Karena tanpa koordinasi, jadilah barang bantuan mereka tidak tepat guna. Banyak yang terbuang. Baju-baju sumbangan tergeletak menggunung dan dibuang di tempat pengungsian. Ya karena pengungsinya tidak butuh, sedangkan mereka menge-drop begitu saja tanpa ada kordinasi dengan posko bantuan. Mereka tidak tahu apa yang sedang dibutuhkan. Akibatnya barang bantuannya banyak yang terbuang sia-sia. Tidak terpakai. Cuma menjadi sampah.

Satu lagi yang kadang jadi masalah ketika distribusi bantuan adalah sabotase. Kadang ada orang yang berniat buruk. Ingin memiliki sendiri bantuan. Tidak mau membagi dengan yang lainnya. Kendaraan yang mengangkut logistik bantuan dijarah. Saya sebenarnya tidak pernah mengalami keadaan ini, hanya berdasarkan cerita saja. Yang menjadi target biasanya kendaraan-kendaraan bantuan dari luar daerah yang mereka tidak menguasai medan dan tidak mempunyai link orang dalam.

Berdasarkan pengalaman menjadi relawan itu, saya jadi tidak pernah meremehkan penyaluran bantuan bencana alam. Karena saya tahu bahwa hal itu sama sekali tidak mudah. Selain itu, jika menyumbang, maka saya lebih merekomendasikan berupa uang tunai. Salurkanlah melalui badan sosial yang terpercaya dan handal. Memilih badan sosial penyalur bantuan adalah bagian yang krusial, tidak bisa bergampang-gampangan. Karena badan itulah yang akan mengoordinasikan bantuan anda hingga sampai di tangan pengungsi yang membutuhkan. Jangan sampai bantuan anda malah tercecer dan terbuang karena koordinasi yang buruk seperti cerita saya di atas.

Bicara mengenai badan sosial, satu yang saya rekomendasikan adalah Peduli Muslim (Page Facebook-nya). Saya rekomendasikan karena saya kenal secara personal dan tahu rekam jejaknya. Insyaallah amanah karena yang menjadi pembinanya adalah ustadz-ustadz yang kompeten. Laporan kegiatannya di sosial media juga bagus dan aktual. Mereka memiliki banyak link, sehingga bisa langsung menembus lokasi bencananya tanpa perlu berurusan dengan penjarahan dan sabotase. Para relawannya juga terlatih. Kali ini Peduli Muslim juga menerima bantuan & menurunkan relawan ke Lombok. Coba cek sendiri deh page facebook-nya, barangkali anda berminat untuk menyumbang tapi belum menemukan tempat yang tepat.

Akhir kata, semoga terjadinya bencana gempa bumi ini bisa memberikan hikmah yang baik bagi kita serta menjadi penghapus dosa bagi orang-orang yang ditimpanya.

block

Mojosari, 11 Agustus 2018

signature

( twitter | instagram )

 

10 thoughts on “Sumbangan Bencana

  1. keren ini
    pengungsi emang butuhnya pembalut, pakaian dalam, susu bayi
    kalo baju bekas mah gak begitu penting” banget ya
    kecuali musibah kebakaran dan banjir bandang sih

    Like

    1. Iya. Barusan juga dapat broadcast untuk pengungsi di lombok juga sedang tidak butuh baju bekas. Dan diharapkan tidak mengirimkan baju bekas.
      Yang sedang mereka butuhkan sekarang beras, pembalut, peralatan mandi, popok, & obat2an captopril, analsig, & pamol.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s