Close Your Mind

Judul macam apa ini? Di masa orang-orang menyuruh kita untuk menjadi open minded, tulisan ini malah menyuruh untuk close minded. Santai, baca dulu.

Di zaman media sosial sekarang ini, sering kali kita jumpai akun para influencer mengajak para followernya untuk open mind. Sebenarnya apa open mind itu? Saya tidak tahu definisi resmi dari frasa open mind a.k.a berpikiran terbuka. Google Dictionary menyebutkan bahwa open minded adalah mau menerima ide baru, tidak berprasangka. Jika menyimak konteks penggunaan frase ‘open mind’ oleh orang-orang, saya bisa menyimpulkan bahwa open mind adalah kita harus mau menelaah sudut pandang orang lain, cara berpikirnya. Kemudian kita harus pengertian, bertoleransi, dan tidak boleh mudah menyalahkan.

Ada yang punya pendapat lain tentang apa itu open mind? Silahkan komentar di bawah.

Dengan open mind wawasan kita menjadi luas, kita jadi bisa terpaparan dengan banyak pemikiran yang dibawa orang-orang, kita bisa menjadi lebih bijak dan tidak gampang menyalahkan.

Praktisi open mind selalu terbuka menerima pemikiran-pemikiran yang dibawa oleh orang lain. Jika di media sosial, mereka mengikuti berbagai macam jenis akun, akun ini maupun akun itu. Orang-orang open minded ini biasanya me-retweet atau men-share berbagai jenis post yang menarik tidak pandang bulu siapakah yang menulisnya.

Kelihatannya keren ya? Iya, karena itu banyak yang mempromosikannya.

Jika kita mau berpikir lebih dalam, sebenarnya ada satu cacat besar dalam sikap open mind. Cacat ini sangat besar dan menjadikan sikap open mind berbahaya. Yaitu: orang-orang open minded lupa bahwa pemikiran itu bisa beracun.

Apa maksudnya? Pemikiran itu sama dengan makanan. Ada yang bagus, ada yang buruk. Apa yang terjadi jika seseorang memakan semua yang ada di hadapannya? Makanan basi, sampah, dan racun juga ikut dimakannya. Tentu saja orang ini akan sakit, bahkan bisa mati.

Makanan yang beracun atau yang tidak layak makan bisa kita nilai secara langsung, melalui baunya, penampakan fisiknya, atau lewat reaksi tubuh kita setelah memakannya, jika kita sakit perut setelah memakannya berarti makanan itu tidak bagus dan kita tidak lagi memakannya.

Yang menjadi masalah adalah pemikiran itu abstrak, tidak memiliki wujud fisik. Membedakannya tidak semudah membedakan makanan. Tidak mudah mengetahui mana pemikiran yang buruk dan beracun mana yang tidak.

Yang lebih parah adalah orang-orang yang teracuni pikirannya seringkali tidak sadar. Orang yang teracuni pemikirannya akan menjadi orang yang terbalik-balik dalam menilai mana yang baik mana yang buruk. Mana yang benar mana yang salah. Yang baik dianggap buruk, yang buruk dianggap baik. Yang salah dianggap benar yang benar dianggap salah dan mereka tidak sadar.

Ah, jangan mengada-ada, apa buktinya pemikiran itu bisa beracun?

Buktinya adalah eksistensi aliran sesat. Aliran sesat, apapun itu, selalu ada pengikutnya. Mulai dari Lia Eden & UFO yang mau mendarat di Monas, teroris, sampai kerajaan ubur-ubur. Kita yang bukan anggota aliran sesat itu tahu bahwa ajaran mereka tidak masuk akal dan salah, tapi pengikutnya menganggapnya benar. Kenapa? Karena pemikiran mereka teracuni, menganggap yang salah sebagai kebenaran. Itu adalah satu bukti bahwa pemikiran bisa meracuni.

Aliran sesat dalam mendapatkan pengikut tentu saja tidak dengan mempromosikan ajaran-ajarannya yang aneh-aneh. Jika mereka mempromosikan kesesatannya tentu saja tidak ada yang mau ikut. Yang mereka promosikan adalah yang bagus-bagus, yang kelihatan benar. Bagus dan benar tapi beracun. Pelan-pelan menggiring pemikiran para pengikutnya. Hingga akhirnya mereka teracuni sempurna dan menganggap kesesatannya sebagai kebenaran.

Karena itulah, open mind adalah sikap yang berbahaya. Jika anda mengklaim sebagai orang yang open minded, ada besar kemungkinan pemikiran-pemikiran beracun ini ikut masuk ke dalam kepala anda tanpa anda sadari. Yang pada akhirnya, dalam beberapa hal anda menjadi terbalik-balik dalam menilai mana yang baik/buruk dan mana yang benar/salah. Ini adalah kasus tipikal yang terjadi pada ‘orang-orang open minded’. 

Kasus macam ini banyak ditemui di media sosial. Seringkali jargon open mind ini digunakan untuk mempromosikan sikap permisif atau hal-hal yang menyimpang dari norma, terutama norma agama. Orang open minded yang teracuni, salah dalam menilai mana yang baik dan buruk, akibatnya mereka jadi membolehkan hal-hal yang buruk karena menganggapnya baik.

Lalu bagaimana mestinya?

Pikiran adalah bagian vital bagi seorang manusia. Ia bagaikan sebuah ruang kontrol yang mengatur setiap perbuatan manusia tersebut. Anda pernah melihat sebuah ruang kontrol yang dibiarkan terbuka begitu saja? Tidak dikunci? Tidak kan?

Kita kadang melihat di film-film, sang pemeran utama berusaha menembus ruang kontrol markas musuhnya. Ia harus melewati banyak penjaga, harus melewati sensor laser, harus mencuri kuncinya, dan bahkan kadang harus memotong jari musuhnya karena pintu ruang kontrolnya menggunakan kunci sidik jari. Nah, begitulah seharusnya sebuah ruang kontrol. Begitulah seharusnya sebuah pikiran. Tertutup dan terjaga ketat.

Pikiran tidak boleh dibiarkan terbuka begitu saja. Ia harus ditutup dan dijaga rapat-rapat. Kemudian berikanlah akses masuk ke dalam pikiran anda untuk orang-orang tertentu. Orang-orang khusus bukan untuk semua orang. Yang mereka ini adalah orang-orang yang berilmu, yang sudah terjamin dengan ilmu yang benar dan kredibel. Dengan begitu maka pikiran anda akan aman dari berbagai sampah dan racun yang berserakan.

Bagaimana? Tertarik menjadi seorang close minded?

block

Mojosari, 19 Agustus 2018,

Sore-sore,

signature

Almajasari

9 thoughts on “Close Your Mind

  1. Mungkin, orang-orang yang mudah terpengaruh adalah mereka yang belum kuat prinsipnya. Orang yang kurang belajar. Orang yang kurang cari ilmu secara menyeluruh. Bukan orang yang open minded.

    Sebab, open minded artinya kita terus berusaha membuka pikiran untuk belajar. Dengan catatan, prinsip kita kuat dan pedoman hidup yang jelas. Kalau muslim, pedomannya Al-Qur’an dan sunnah.

    Jadi, meskipun open minded, kita tidak boleh lupa untuk memfilternya. Seperti kata mas, supaya nggak keracunan.

    Liked by 2 people

  2. Maaf. Belum tertarik. Orang yang mudah sesat dan terbawa pikiran mengandung racun tidak semuanya open mind menurutku. Orang yang closed mind juga bisa. Apalagi kalau mereka mendapat ilmu dari orang yg salah dan gak mau coba untuk open terhadap pemikiran orang lain. Mind is like parrachute. It works when its opened.

    Liked by 2 people

    1. Sebenarnya itu adalah fitur kelebihannya close minded, ketika salah gampang ditrack, kalau salah pasti panutannya salah. Dan akan ada orang2 yang berilmu benar yg akan mengkonfron panutannya itu.
      Di saat panutannya kalah dan terbukti salah, maka dia bisa diharapkan untuk mengganti orang yang diberi akses ke dalam pikirannya.

      Close mind ini bersifat sementara sebenarnya, hanya sampai dia memiliki ilmu yang kuat dan sangat mantap, hingga mampu memfilter sendiri.
      Orang2 open minded zaman ini kebanyakan overestimate terhadap ilmu mereka. Merasa mampu kenyaring sendiri. Karena itu seringkali berakhir dengan keracunan.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s