Lim

Jadi dulu sewaktu SMA ulangan matematika saya tentang bab limit adalah nilai ulangan terjelek yang pernah saya dapatkan. Dapat nilai 40. Saya baru paham konsep limit matematika yang sebenarnya ketika kuliah S1. Baru mudeng. Dan anda tahu apa lucunya?

Lucunya adalah tulisan ini bukan tentang limit matematika, hahaha…

haha..

haaah..

ok,

Dalam salah satu tulisan saya di blog ini dulu, saya pernah membuat pernyataan bahwa sifat khas yang banyak dimiliki oleh negara-negara bekas jajahan adalah sifat merasa inferior. Termasuk juga negara kita yang tercinta ini. Perasaan inferior alias perasaan merasa lemah ini mungkin juga anda miliki, buktinya anda merasa ‘wah’ ketika bertemu orang-orang bule atau merasa punya achievement besar sekaligus norak saat berkunjung ke luar negeri ke negara maju. Ya, intinya merasa negara kita ini ga terlalu ada apa-apanya dibandingkan negara lain. Bener ga?

Termasuk juga ke dalam perasaan inferior ini adalah perasaan tidak bisa, merasa tidak mampu. Bukankah sering kita merasa ga bisa? Mau usaha, ah ga bisa e. Bicara di depan orang banyak, ah ga bisa. Diet dan punya tubuh yang fit dan kuat, ah ga bisa saya mah. Dapat IPK 4 semester ini, ah mimpi. Ga bisa lah pokoknya.

Perasaan inferior ini bukan hanya ‘perasaan ga bisa’ yang ada di mulut, tapi juga ‘perasaan ga bisa’ yang tersimpan jauh di dalam hati kita. Anda pasti punya kan perasaan itu, jauuuuh di dalam lubuk hati anda merasa tak mampu melakukan sesuatu. Mau diakui atau tidak, anda pembaca pasti punya rasa itu.

Yang saya rasakan adalah, perasaan inferior ini sangat menyebar di masyarakat kita, terutama di desa atau di kota-kota kecil.

Lanjut,

Tahukah anda istilah ‘limiting belief’? Tahu? Oo, ya sudah kalau tahu.

Buat yang belum tahu saja, limiting belief adalah keyakinan yang membatasi. Hahaha, itu mah terjemahannya bukan definisinya.

Secara sederhana, limiting belief adalah keyakinan yang kita miliki dalam hati yang membatasi kita untuk mencapai tujuan. Secara lebih sederhananya lagi, limiting belief adalah perasaan tidak mampu yang kita bicarakan di atas.

Merasa lemah dan tidak mampu padahal bisa jadi sebenarnya kita memiliki kemampuan dan potensi, hanya saja kita yang merasa tidak mampu.

Limiting belief bagaikan seseorang menginstall Windows 95 di sebuah komputer, kemudian ia menggunakannya untuk menjalankan adobe photoshop CC. Bisa? Ga bisa lah. Kemudian orang itu berkesimpulan bahwa mesin komputernya tidak mampu menjalankan photoshop CC itu. Padahal CPU komputernya adalah Ryzen 32 core dengan RAM 64 GB, dia ga bisa menjalankan photoshop CC karena Windows 95 yang diinstall itu membatasi kemampuan mesinnya. Mesinnya mampu? Mampu banget. Menjalankan software yang jauh lebih berat juga dia mampu.

Begitu analoginya, kira-kira lah.

Bertemu dan berurusan dengan orang yang memiliki banyak limiting belief itu susah. Sedikit-sedikit ga bisa, ga mampu, ga bakat. Gahh… padahal dia belum mengerahkan semua yang dia miliki, atau dia baru gagal satu dua tiga empat kali. Kalaupun dia berusaha, dia berusaha dengan mindset “saya ga bisa ini mah…”. Kebayang kan bagaimana orang yang berusaha melakukan sesuatu dengan mentalitas seperti ini? Lembek, tidak maksimal, kualitas usahanya adalah kualitas rendahan. Dia juga bakal mudah menyerah dan takut menghadapi sesuatu yang terlihat sulit.

Lalu, apakah limiting belief ini bisa dihancurkan?

Kabar baiknya adalah, limiting belief ini bisa dihancurkan.

Kabar buruknya adalah, tidak ada jalan pintas dan trik untuk menghancurkannya.

Anda simply harus menghadapinya ‘head on’. Mengerahkan semua yang anda miliki dan menghilangkan perasaan-perasaan tidak mampu di dalam hati ketika berusaha. Tidak menyerah meskipun berkali-kali gagal. Dan yang paling penting, banyak berdoa, minta kemudahan dan kekuatan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Cara ini terangkum dengan indah dalam salah satu hadits Rasulullah, ihrish ‘ala ma yanfa’uka wa laa ta’jaz wasta’in billah = Bersemangatlah melakukan hal yang bermanfaat, jangan merasa lemat, dan mintalah pertolongan pada Allah.

Ketika anda melakukan dan mengusahakan sesuatu yang anda sebenarnya merasa tidak bisa, kemudian anda ternyata berhasil dan sukses besar, maka saat itulah limiting belief itu hancur.

Serunya adalah, ketika anda memiliki banyak limiting belief dalam pikiran, banyak merasa tidak mampu ini, tidak mampu itu, ini, itu, ini, itu, banyak. Anda hanya perlu menghancurkan satu limiting belief saja, dan semua sisanya akan otomatis hancur.

Apa yang terjadi ketika limiting belief itu hancur dan terangkat dari pikiran kita?

Saya kasih contoh orang yang termasuk berhasil mengangkat limiting belief dari dirinya. Ada banyak sebenarnya. Banyak, tapi tetap saja merupakan minoritas sangat kecil dibandingkan seluruh penduduk negeri ini.

Tahu Deddy Corbuzier? Ah, saya sebenarnya tidak ingin menjadikan dia sebagai contohnya karena ia banyak dianggap sombong dan arogan. Tapi, karena dia adalah public figure yang banyak dikenal orang dan saya yakin semua yang membaca tulisan ini tahu tentang dia, ya sudahlah gapapa.

Iya, Deddy Corbuzier adalah termasuk orang yang, bisa dibilang, berhasil menghancurkan limiting belief yang ada dalam dirinya. Kalau kita ingat ceritanya entah dari TV atau youtube, kita bisa mengatakan bahwa ada dua momen yang menjadi pemicu hancurnya limiting belief. Well, ini kira-kira sih.

Satu adalah ketika program dietnya -OCD- berhasil. Dia yang awalnya gemuk dan punya masalah dengan penampilan & berat badan, berhasil melakukan diet dan body building sampai jadi seperti sekarang ini. Besar dan kekar. Dulunya, ada limiting belief bahwa ‘ah ga bisa punya tubuh yang fit dan bagus’, tapi sekarang limiting belief itu sudah hancur.

Dua adalah saat dia bermasalah dengan syarafnya. Yang waktu itu sampai harus pakai kursi roda dan bisa jadi dia harus memakai kursi roda seumur hidupnya. Entah kenapa, akhirnya dia bisa berjalan lagi normal seperti sedia kala. Sesuatu yang dia anggap hampir mustahil ternyata terjadi. Di saat inilah limiting beliefnya hancur.

Dengan hancurnya satu atau dua limiting belief itu maka hancurlah semua sisanya.

Apa hasilnya?

Hasilnya adalah persona Deddy Corbuzier yang bisa anda lihat langsung di channel youtubenya. Optimis, berenergi, positif, tidak merasa lemah, bahkan kadang-kadang kebablasan sampai menjadi arogan. (Btw, entah arogan itu cuma setingan agar menarik atau aslinya juga begitu, saya tidak tahu)

Dan saya yakin, ada orang-orang di sekitar anda yang juga berhasil menghancurkan limiting belief yang ada di hatinya, hanya saja anda tidak perhatian.

Seringkali, orang-orang ini melakukannya secara tidak sengaja, karena ia terdesak keadaan. Karena terdesak keadaan maka ia terpaksa habis-habisan melakukan sesuatu yang dia yakin dia ga bisa. Terjadi agony luar biasa, karena adanya tabrakan antara merasa lemah dan terpaksa keadaan. Tapi kemudian, tiba-tiba saja dia berhasil. Dia yang selama ini merasa tidak mampu ternyata mampu dan sukses dengan sangat baik. Saat itu, hancurlah satu limiting beliefnya dan semua limiting belief lainnya ikut hancur.

Orang yang menghancurkan limiting beliefnya akan jadi seperti contoh di atas. Ia tidak akan merasa lemah. Perasaan lemah dan ga bisa itu berubah menjadi perasaan ‘saya bisa kalau berusaha, saya punya potensi’.

Saat perasaan lemah ini hilang, dunia terasa sangat luas. Kekuatan menjadi berlipat-lipat. Mentalnya berubah sekeras berlian. Ia tidak akan mudah menyerah apalagi hancur menghadapi kesulitan-kesulitan. Karena ia merasa ia akan bisa. Energinya pun sekana tak ada habisnya. Skill yang dimilikinya juga akan berkembang dengan drastis karena ia mengasah dan mempelajarinya dengan antusias dan optimisme tinggi.

Orang macam ini tidak akan puas dan tidak akan rela dengan hal-hal trivial, remeh, dan rendahan. Ia akan mengincar hal-hal yang mulia dan tinggi. Cita-citanya berubah, dari yang semula biasa menjadi hal luar biasa yang bahkan jadi bahan tertawaan orang-orang di sekitarnya.

Beberapa orang menyebut orang seperti ini sebagai ‘Alpha’. Tapi ini hanya sekadar sebutan saja sih, tak ada makna lebih. Saya malah lebih senang menyebut orang macam ini sebagai ‘pemeran utama’ sedangkan yang lainnya adalah ‘figuran’. Karena mereka dan hanya mereka lah yang memerankan peran utama di kisah-kisah besar berpengaruh yang ada di dunia ini, dari dulu hingga sekarang, fakta ini belum berubah.

Jadi ini. Saya sudah berikan informasi yang bisa mengubah hidup anda.

Apa yang akan anda lakukan dengan informasi ini? Terserah anda.

Btw, saya banyak sekali menyebut  istilah ‘limiting belief’ di tulisan ini. Berapa kali kira-kira?

 

Mojosari, 6 Februari 2019

10 thoughts on “Lim

  1. tulisan yang menarik. pernah mengalami beberapa perasaan itu, baru tahu kalau istilahnya limiting belief.
    terima kasih tulisannya Mas.

    btw, akhirnya ngeblog di sini lagi ya 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s