Author VS Illustrator

Pernahkah anda mendengar ungkapan “Gambar mewakili seribu kata”? Ungkapan yang sudah tersebar luas ini menyatakan bahwa gambar visual lebih berdaya dibandingkan kata dan kalimat. Dan saya penasaran, apakah ungkapan ini berlaku umum ataukah ada konteks tertentu?

Mana yang sebenarnya lebih powerful? Gambar atau kata? Mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah “manakah yang lebih powerful, gambar atau tulisan?”

Flashback dulu…

Sekitar seminggu yang lalu, saya bergabung dengan sebuah grup Telegram yang isinya seputaran desain grafis. Atau lebih spesifiknya grup forum tentang FLOSS yang merupakan akronim dari free libre open source software. Yah, intinya tentang free design software. Forum yang sangat menarik bagi saya sebagai pengguna inkscape.

Di dalam forum itu ada banyak desainer grafis, ilustrator, gif artist, dan lain-lain. Karya mereka juga keren-keren.

Di forum itu kita bisa tanya-tanya langsung pada para pro, berbagi informasi dan mengikuti kulgram. Ada banyak resource dan tutorial yang dibagikan. Bisa banget untuk jadi sumber belajar desain grafis. Tinggal meluangkan waktu dan ketekunan, kita bisa jadi sehebat mereka.

Di saat menelusuri forum inilah, muncul sebuah pertanyaan dalam benak. Manakah yang lebih powerful, gambar atau tulisan? Ide dan gagasan dalam kepala ini bagusnya dituangkan ke dalam bentuk apa? Skill mana yang ingin saya asah? Menggambar atau menulis?

Bebarengan dengan pertanyaan-pertanyaan ini, ungkapan “Gambar mewakili seribu kata” ikut berkelebat dalam kepala. Benarkah gambar lebih powerful dibandingkan tulisan?


Dalam sebuah website enterpreneur yang saya baca, terdapat sebuah artikel yang menyajikan riset bahwa saat ini konten visual dan audio-visual adalah yang merajai dunia marketing.

Orang-orang lebih tertarik menuangkan perhatian pada gambar atau video dibandingkan teks tulisan. Buktinya adalah youtube yang semakin booming dan media massa yang menyajikan tulisan semakin kehilangan pelanggannya. Intinya, visual lebih powerful dibandingkan barisan huruf-huruf.


Saya dulu pernah bekerja yang salah satu jobdesc pekerjaannya adalah membantu mengelola sebuah page facebook. Page facebook ini cukup besar dengan hampir satu juta follower. Followernya juga internasional dari berbagai negara.

Ketika mengecek insight page tersebut, saya temukan analitik yang menyebutkan bahwa konten dengan engagement terbanyak adalah konten-konten video, kemudian tipis di peringkat kedua adalah konten berupa gambar. Konten berupa tulisan ada di peringkat terakhir dengan margin yang sangat jauh.

Analitik itu dengan jelas menyebutkan bahwa gambar visual jauh lebih diminati dibandingkan tulisan.


Jadi, gambar lebih powerful dibandingkan tulisan? Sepertinya memang demikian. Fakta statistik menunjukkan gambar jauh lebih disukai dibandingkan tulisan.

Tapi…

Tapi entah mengapa dalam hati saya merasa tidak bisa menerima bahwa tulisan lebih inferior dibandingkan gambar. Dan perasaan ini cukup mengganggu. Perasaan yang menyelisihi data.

Karena terganggu, jadilah saya mencoba menggali dalam hati, berusaha memahami kenapa saya merasa bahwa tulisan lebih superior dibandingkan gambar.

Menggali dan menggali, hingga akhirnya saya mendapati beberapa alasan mengapa hati ini menganggap tulisan lebih powerful dibandingkan gambar.

Alasan pertama. Sejarah tak pernah menceritakan bahwa ada pelukis yang memicu revolusi dengan kuasnya. Tak ada. Yang dicatat oleh sejarah adalah bahwa revolusi sering kali dimulai oleh pena para penulis.

Sejarah nasional negeri kita pun banyak diwarnai oleh goresan tinta pena para penulis. Bagaimana tulisan-tulisan Van Deventer dan buku Max Havelaar menjadi pemicu mulainya program edukasi untuk para pribumi yang pada akhirnya melahirkan para proklamator. Juga bagaimana Kartini dikenang sebagai “Ibu Kita Kartini” karena surat-surat yang ditulisnya.

Selain itu, entah berapa banyak para penguasa yang merasa takut dengan para penulis. Mereka khawatir bahwa pena-pena penulis akan meruntuhkan kekuasaannya. Saking takutnya, sampai mereka -penguasa- merasa perlu untuk memenjarakan para penulis itu. Silahkan buka lembaran-lembaran buku sejarah, akan banyak anda temui kisah semacam ini.

Sejarah banyak digerakkan oleh pena para penulis adalah sebuah fakta.

Alasan kedua. Perintah pertama yang turun dalam al Quran adalah perintah membaca. Iqro’!!

Ayat pertama di surat al Alaq ini mengangkat derajat tulisan ke posisi yang tak akan mampu diraih oleh gambar. Alasan yang sederhana tapi sangat kuat untuk menegaskan bahwa tulisan lebih powerful dibandingkan gambar.

Alasan ketiga sekaligus yang terakhir adalah pengalaman pribadi:

Saya pernah mengunjungi museum Affandi dan melihat koleksi berbagai lukisan eskpresionis Affandi, salah satu pelukis terbaik di negeri ini. Melalui internet, saya juga pernah melihat berbagai gambar. Mulai dari yang sederhana sampai lukisan ultra-realis.

Gambar-gambar dan lukisan itu saya akui indah. Saya tak mampu membuat yang selevel itu. Tapi…

Indah. Sudah itu saja. Saya lihat kemudian merasa ‘wah’ karena indah. Lalu sudah. Hanya sampai di mata. Berbeda dengan tulisan. Tulisan terbaik yang pernah saya baca bisa menembus sampai hati dan menusuk-nusuknya. Pengaruh sebuah tulisan saya rasakan nyata dan sangat terasa dalam hati.

Saya sulit mengungkapkannya, tapi begitulah. Dalam hati, tulisan bisa memberikan impak yang tak mampu dihadirkan oleh gambar-gambar lukisan, ilustrasi, dan yang semisalnya.

Tiga alasan itulah yang membuat saya merasa yakin bahwa tulisan lebih powerful dibandingkan gambar. Iya memang benar bahwa gambar lebih eye-catching, bagus untuk menarik perhatian. Tapi dalam menyampaikan gagasan, tulisan masih jauh di atas angin.

Tulisan adalah media yang jauh lebih berdaya dalam melesatkan ide dan gagasan, media yang jauh lebih berdaya untuk mengantarkan ide dan gagasan itu menembus hati dan kepala-kepala manusia. Gambar doesn’t even come close.

Karena itu, saya mohon izin kepada para desainer grafis dan ilustrator untuk secara sepihak menjatuhkan verdict bahwa tulisan lebih superior dibandingkan gambar.

Tolong jangan salah paham, saya tidak mengatakan ilustrasi tidak berguna. Ilustrasi dan desain grafis itu berguna. Terimakasih banyak untuk para ilustrator yang telah membuat ruang pandang kita menjadi indah dan nyaman. Hanya saja, yang pantas menjadi ujung tombak adalah tulisan bukan gambar.

Saya sebenarnya menggenggam dua-duanya, pena dan kuas, di kedua tangan saya. Dua-duanya sama-sama dull dan tidak powerful. Salah satu sebabnya adalah karena saya tidak fokus mau mengasah yang mana. Setelah menyadari alasan-alasan di atas, saya memutuskan untuk melepaskan kuas dan akan mulai fokus mengasah pena.

Maaf kuas, kamu harus pensiun.
Bersiaplah pena, kamu yang mulai detik ini akan jadi senjata utama.

5 thoughts on “Author VS Illustrator

  1. Tapi gambar bisa masuk ke berbagai budaya tanpa harus kehilangan pesan yang mau disampaikan. Tulisan agak susah kalau tidak tahu konteks sosial dan budaya serta waktu penyampaian.

    Like

  2. halo! aku setuju dengan ungkapanmu bahwa tulisan lebih powerful daripada gambar. lewat gambar, kita bisa tahu keindahan secara visual yang ngga semua orang bisa buat, tapi ngga bisa ditafsirkan dengan baik oleh orang awam.
    dan lewat tulisan, kita bisa memahami makna seseorang plus dapat ekstra membayangkan suatu kondisi sesuai dengan imajinasi kita sendiri, that’s why menulis itu unik.
    keep writing! selamat bereksplorasi dalam tulisan 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s