Hahahaha

Suatu hari ada seorang pemuda yang duduk-duduk bersama teman-temannya. Ia tertawa-tawa lepas. Kemudian lewatlah seorang ulama di depannya, Al Hasan Al Bashri.

Beliau bertanya pada pemuda itu, “Hai pemuda, pernahkah kau melewati jembatan ash shiroth?”

“Belum pernah.”

Beliau bertanya lagi, “Apakah kau tau, saat ini kau sedang berjalan menuju surga atau kah menuju neraka?”

“Tidak tahu.” Jawab pemuda itu.

Lalu apa arti tawamu itu ?”


Maka layak kita bertanya pada diri masing-masing, sampai kapankah kelalaian ini akan terus berlanjut ?

Pemimpin Yang Tersedu

Saya adalah penduduk asli Kabupaten Mojokerto. Jika anda tidak pernah dengar nama Mojokerto, mungkin anda pernah dengar nama Mojopahit. Iya, tempat tinggal saya adalah bekas bumi Negeri Mojopahit. Negeri Mojopahit yang dulu pernah berambisi dan bersumpah untuk menyatukan Nusantara.

Jadi, Mojokerto adalah kabupaten yang low profile. Benar-benar low profile. Tapi beberapa hari ini nama Mojokerto beberapa kali muncul di portal berita internet atau TV. Pasalnya, KPK sedang datang kemari dan menggeledah beberapa kantor tempat pemerintah daerah berdinas. KPK juga menyita beberapa aset mewah sang Bapak Bupati.

Saya tidak hendak bercerita tentang korupsi.

Pemberitaan korupsi ini membuat saya ingat tentang sebuah kisah yang terjadi di masa lampau yang telah dicatat oleh para ulama dalam lembaran kitab sejarah yang indah.

Tentang pemimpin tertinggi kaum muslimin di zaman itu, Khalifah Harun Al Rasyid. Ketika sedag musim haji. Sang khalifah tengah berada di Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji.

Beliau tengah mengerjakan sa’i. Bersiap-siap meninggalkan Marwah untuk pergi menuju Shafa. Tiba-tiba saja ada seorang yang sudah tua, Abdullah Al-Umari, memanggilnya.

“Wahai Harun !”

“Labaik, wahai pamanku”, Khalifah menoleh dan menjawab panggilannya.

“Kemari, naiklah ke bukit Shafa”.

Khalifah menuruti permintaannya dan kemudian naik ke atas bukit Marwah. Dari atas bukit Marwah mereka bisa melihat dengan jelas para jamaah haji yang menyemut di bawah.

Abdullah Al Umari mengatakan,”Sekarang lihatlah ke arah Baitullah, berapa banyak orang yang ada di sana?”

Khalifah menjawab, “Siapa juga yang sanggup menghitung jumlah mereka.”

“Berapa banyak lagi orang-orang, kaum muslimin, yang seperti mereka?”

Khalifah menjawab, “Hanya Allah yang sanggup menghitung jumlah mereka.”

Al Umari berkata, “Ketauhilah, masing-masing dari orang-orang itu akan dimintai pertanggunjawaban atas perbuatannya sendiri-sendiri. Sementara kau, sebagai pemimpin, akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka semuanya, cobalah perhatikan bagaimana jadinya dirimu nanti??”

Peringatan Al Umari itu membuat Sang Khalifah jatuh terduduk. Matanya basah. Kemudian air mata yang berlinang itu menjadi semakin deras. Sang Khalifah pun menangis tersedu. Membayangkan betapa berat pertanggungjawaban yang harus ia siapkan nanti.

Orang-orang yang saat itu berada di sekitar Sang Khalifah pun berebutan memberikan sapu tangan mereka.

Al Umari kemudian meneruskan peringatannya, “Demi Allah, sesungguhnya orang yang menghambur-hamburkan harta pribadinya pantas untuk dibekukan hartanya. Lantas bagaimana dengan orang yang menghambur-hamburkan harta kaum muslimin??”

Kemudian Al Umari beranjak pergi, meninggalkan Sang Khalifah yang masih menangis tergugu.

Sungguh kepemimpinan dan kekuasaan itu bukanlah hal yang ringan. Sangat berat tanggung jawabnya di dunia. Dan berlipat-lipat lagi beratnya saat nanti di akhirat. Ada berapa banyak kah pemimpin kita sekarang yang menyadari hal ini?

(ref: Aina Nahnu Min Akhlaqis Salaf)

Re-kreasi

Kala itu, orang-orang berkumpul mereka saling mengobrol membicarakan tentang tempat-tampat rekreasi.

Sebagian mengatakan, “Tempat yang paling menyenangkan untuk berekreasi adalah lembah-lembah yang asri di Damaskus.”

Sebagian yang lain berkata, “Yang paling menyenangkan adalah sungai Uballah.”

Yang lain lagi berkata, “Taman Samarkand.”

Yang lainnya lagi berkata, “Nahrawan di Baghdad.”

Yang lainnya lagi, “Taman indah di Bawwan.”

Lainnya lagi, “Nubahar Balkh.”

Di antara orang-orang itu ada seorang ulama, Ibnu Duraid namanya. Beliau berkomentar, “Semua itu adalah tempat rekreasi mata, lalu manakah jatah rekreasi hati kalian?”

“Apa yang anda maksud rekreasi hati ?”

“Rekreasi hati yaitu membaca kitab ‘Uyunul Akhbar karya Al Quthbi, Az Zahrah karya Ibnu Dawud dan Qolaqul Musytaq karya Ibnu Abi Thahir.”

Kemudian beliau bersyair:

Barangsiapa tamasya-nya tertuju pada biduanita, piala, dan minuman

Maka tamasya dan istirahat kami adalah menelaah buku dan kitab Al ‘Uyun

(ref: terjemah Al Musyawiq Ilal Qiroah wa Tholabil ‘Ilmi)

Hikmahnya: Perhatikanlah bedanya antara rekreasi para ulama dengan rekreasi kita. Jika rekreasi kita adalah traveling dan jalan-jalan cantik sambil selfie, maka rekreasi mereka adalah mengunjungi kitab-kitab yang menghidupkan hati.

Siapa yang mau meneladani dan meneruskan semangat mereka dalam belajar dan membaca buku? Kita?

Ammar

Ibnu Umar menceritakan,

“Aku pernah melihat Ammar pada hari peperangan Yamamah berada di atas sebuah batu besar dan berteriak, “Wahai kaum muslimin, apakah kalian akan lari dari surga? Saya Amar bin Yasir, kemarilah kalian semua!” Aku melihat telinganya telah terpotong dan masih tergantung-gantung. Meski demikian, beliau tetap berperang dengan gagah berani.




disadur dari Aina Nahnu Min Akhlaqis Salaf