Blog Yang Layu

Di dataran internet yang luas ini, tersebutlah sebuah blog. Blog ini terlihat sepi, tidak terlihat ada kehidupan di dalamnya. Sepi, sedih dan suram seperti rumah yang lama tak dihuni.

Blog siapakah itu?

Tulisan-tulisan yang semula segar, mulai terlihat tua dan tidak relevan. Sang pemilik tampaknya tak pernah lagi menyiramkan ide-ide baru di dalamnya. Kusut dan kotor. Meskipun begitu, masih terlihat jejak-jejak kejayaan sang blog. Masih tersisa judul-judul indah yang pernah disematkan sang pemilik. Paragraf-paragraf menarik yang dulu dituliskan dengan penuh semangat juga masih berdiri tegak di tempatnya masing-masing. Para huruf yang ada di sana adalah saksi bahwa blog itu pernah hidup dan berjaya. Huruf-huruf itu masih setia berdiri meskipun berkalang debu.

Blog siapakah itu?

Kolom komentar yang dulu ramai, sekarang hening tanpa ada satupun suara. Saling sapa dan canda tawa para teman yang berkunjung kini hanya menjadi kenangan. Tak ada lagi suara-suara baru. Tak ada lagi komentar ceria. Tak ada lagi tamu yang datang berkunjung kemudian menyapa. Tidak ada lagi.

Kolom komentar menjadi tempat mati yang sepi. Semua teks komentar dari masa lalu yang tersisa masih tetap ada dan bertahan di tengah kesunyian. Kolom komentar telah putus asa, dia telah rela untuk tak lagi dikunjungi.

Sang blog telah siap untuk ditinggalkan dan dilupakan.

Blog siapakah itu?

Tak perlu susah-susah mencari siapakah pemiliknya. Karena pemiliknya adalah kita. Saat kita tak lagi ada di dunia ini, itulah yang akan terjadi pada blog kesayangan. Sepi dan tak terurus.

Bagaimana mungkin kita bisa mengurusnya, sedangkan nafas kita saja tak mampu lagi berhembus, jantung kita juga tak lagi mampu berdetak. Kita sibuk di alam kubur, menerima akibat atas apa yang talah dikerjakan. Begitu sibuknya hingga tak ada waktu memikirkan blog kita yang tertinggal di dunia.

Apa yang sudah kita siapkan?