Jumatan Wooahh…?!?!

Ini adalah cerita di sebuah hari Jumat, bukan Jumat yang kemarin, tapi Jumat beberapa pekan yang lalu.

Jadi saya pergi sholat jumat seperti biasa. Duduk di tempat favorit, di shof paling depan di bawah kipas angin. Di masjid ini, kipas anginnya hanya ditempel di dinding-dinding, jadi kalau ingin dapat anginnya harus duduk dekat dinding. Makanya saya senang duduk di shof depan itu, karena sepoi-sepoi. Dari spot itu, mimbar khotib juga terlihat jelas, hanya perlu mendongak sedikit ke arah kanan.

Khotbah jumat berlangsung biasa saja. Masjidnya rame karena berada di samping jalan raya. Jamaah jumat mendengarkan jumatan sambil ngantuk-ngantuk setengah sadar. Berada di tengah-tengah orang yang ngantuk dan di bawah kipas angin, saya jadi ikutan ngantuk. Jadilah saya agak merem-merem sambil mendengarkan khotbah.

Sampai suatu ketika …

Satu kalimat dari khotib membuat ngantuk ini hilang …

Beliau mengatakan, “… … … kalimat istirja’ adalah peta utama teokosmologi.”

WOOAhh

Ngantuk ini rasanya tiba-tiba hilang, pikiran langsung bangun. Dan saya langsung berteriak (dalam hati tentunya)..”Wooooahh, ngomong apa itu ?!?!?!?…..woooah…. wooah…”

Langsung melek, gara-gara satu kalimat yang tidak bisa diproses oleh otak ini…Wooah.

“…. kalimat istirja’ adalah peta utama teokosmologi.”

Saya tahu istirja’ itu adalah kalimat inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Tapi apa itu teokosmologi. Teo kan agama ya, seperti di teologi = ilmu tentang agama. Kosmologi bukannya ilmu tentang luar angkasa?? Atau merk rice cooker?, eh itu cosmos ding. Terus kalau digabung? Ilmu tentang agamanya luar angkasa?? atau ilmu yang mempelajari agamanya alien?? Lalu di sana ada petanya? Terus ada juga kah peta yang bukan utama? Peta sampingan??!?!? Apa hubungannya istirja’ dengan luar angkasa? Eh ini nyambung nggak sih.

Saya cuma orang biasa yang hidup di desa. Kalimat itu sama sekali tidak bisa saya cerna, bahkan sampai detik ini. Saya yakin sebagian besar jamaah yang mendengarkan khotbah itu juga tidak paham, bahkan bisa jadi semuanya yang hadir saat itu tidak ada yang paham. Maklum ini cuma masjid yang jadi jujugannya orang-orang kampung , meskipun letaknya ada di samping jalan raya.

Sepanjang perjalan pulang dari masjid, kepala saya masih saja teriak woah woah.



Dulu, ketika masih sekolah, jaman-jaman SD, SMP, atau SMA. Saya mengira bahwa kalimat-kalimat yang rumit itu keren. Kalimat rumit adalah tanda bahwa yang mengatakannya adalah orang yang cerdas. Saya dan teman-teman berpikirnya demikian.

Lihat saja kolom opini di koran-koran. Biasanya penulisnya punya gelar yang berderet -deret kan? Dan tulisannya itu selalu rumit, susah dimengerti.

Jadi kami, jika sedang ada tugas menulis membuat esai atau menyusun karangan, selalu berlomba-lomba membuat yang rumit. Semakin rumit & semakin tidak bisa dipahami semakin banggalah kita.

Hahaha…dasar bocah.

Sekarang ini, setelah sedikit dewasa dan menua, saya akhirnya paham bahwa kenyataannya tidaklah seperti itu. Bahkan sebaliknya. Yang menjadi tanda kecerdasan seseorang bukanlah kalimat yang rumit tapi kalimat yang sederhana. Semakin sederhana dan semakin mudah dipahami adalah tanda bahwa yang mengatakannya adalah orang yang cerdas.

Orang-orang yang cerdas adalah orang-orang yang bisa menjelasakan sesuatu dengan sederhana. Sesuatu yang rumit bisa menjadi sederhana saat ia menjelaskannya.

Kenapa bisa begitu?

Orang yang cerdas memahami permasalahan dengan sempurna. Dia benar-benar memahaminya luar dalam. Karena ia benar-benar paham, maka dia bisa memilih pendekatan / approach dari sisi manapun yang dia mau. Dia akan memilih pendekatan yang paling bisa dipahami oleh lawan bicaranya. Bila menghadapi lawan bicara lain yang memiliki latar belakang lain, ia akan memilih pendekatan yang lain, menyesuaikan dengan siapakah yang ia ajak bicara. Dia leluasa mendekati permasalahan dari sisi manapun, karena ia benar-benar memahaminya.

Orang yang bodoh, pura-pura cerdas, dan hanya memiliki pengetahuan yang setengah-setengah tidak memiliki keleluasaan ini. Mereka hanya bisa paham dari satu atau dua sisi saja.

Selain itu, orang yang cerdas mampu mengukur lawan bicaranya. Dia bisa memperkirakan tingkat pemahaman dan tingkat bahasa yang dikuasai oleh sang lawan bicaranya, kemudian ia akan melakukan adjustment pada bahasa yang digunakannya. Retorika dan diksi yang digunakannya bervariasi. Cara bicaranya pada akademisi berbeda dengan cara bicaranya dengan orang kampung atau dengan bapak tukang becak.

Dan orang-orang yang cerdas tidak akan sungkan menyederhanakan penyampaiannya. Karena bagi mereka, yang terpenting adalah tersampaikannya maksud kepada lawan bicara. Mereka tidak sok-sok rumit dalam menyampaikan sesuatu agar dianggap cerdas. Mereka memiliki kecerdasan yang sebenarnya sehingga sama sekali tidak butuh pengakuan dari orang lain.

Karena itu, sekarang, jika menemui suatu tulisan yang sederhana tapi mengena di hati, saya akan langsung tahu bahwa penulisnya adalah seorang yang cerdas.

Di Jalan

Dia sedang ada di jalan,

di dalam mobil di bangku penumpang.

Membaca buku di samping jendela.

Sayup-sayup suara adzan

terdengar di antara suara kendaraan

yang tidak ramai.

Dia melongok ke arah luar jendela

melihat ke atas ke arah langit

mencari kubah.

Tiada terlihat ada kubah,

Mobil terus bergerak

kemudian menikung, sebuah

kubah hijau berdiri tinggi

tepat di ujung tikungan.

Mobil berhenti,

Dia turun beranjak dari mobil

masuk, meninggalkan bukunya

tergeletak sendiri

di atas kursi