Mental Mudik

Musim lebaran musimnya mudik. Saya yang tahun-tahun sebelumnya merantau juga sering merasakan mudik, tapi tahun ini karena sudah pindah kembali ke kampung halaman saya jadi tuan rumah yang menjamu saudara-saudara yang mudik.

Mudik dalam KBBI diartikan sebagai pulang ke kampung halaman. Bagi siapa saja yang pernah merasakan mudik pasti tahu betapa repotnya, apalagi bagi yang telah berkeluarga dan memiliki banyak anak. Meskipun begitu, tiap tahun arus mudik selalu saja ramai, menandakan bahwa orang-orang yang mudik itu kuat.

Saya punya hipotesis bahwa orang-orang yang sedang dalam perjalanan pulang memiliki kekuatan berkali-kali lipat dibandingkan kondisi normalnya. Sederhananya: manusia berada dalam kondisi terkuatnya saat sedang dalam perjalanan pulang. Hmm.. mungkin menyebutnya sebagai kondisi “terkuat” terlalu berlebihan. Pokoknya manusia berada dalam kondisi kuatnya saat sedang dalam perjalanan pulang.

Saya punya cerita tentang hal ini. Sekitar setahun yang lalu, saya masih di perantauan. Setiap sabtu ada acara yang selalu saya hadiri, tempatnya sekitar beberapa belas kilometer dari kos, kira-kira membutuhkan setengah jam perjalanan dengan motor yang agak ngebut.

Acara itu dimulai sekitar jam setengah empat sore dan selesai jam lima lebih sedikit. Setelah itu saya bisa langsung pulang dan sampai lagi di kosan sebelum maghrib dan sholat maghrib di masjid di dekat kos. Setelah itu bisa istirahat dan agak santai menikmati akhir pekan.

Pada suatu sabtu, acaranya agak molor tidak seperti biasanya. Saat acaranya selesai, langit sudah gelap, gabungan antara gelap karena mendung dan gelap karena sudah menjelang malam. Saya bergegas pulang. Jalan utama yang biasa saya lewati macet, maklum memang jam-jam itu adalah jam-jam macet. Saya memutuskan lewat jalan yang lebih kecil yang saya tidak familiar. Pokoknya tahu arahnya.

Di jalan, mampir sholat maghrib di masjid di kampung yang saya lewati. Saat itu sudah mulai turun gerimis. Kemudian saya lanjutkan perjalanan. Melewati jalan kecil yang gelap dan kanan kirinya tanah kosong, saya tidak familiar dengan daerah itu. Di tengah jalanan yang asing, gelap, dan gerimis itu tiba-tiba ban motor kempes, bocor.

Tidak tahu di mana ada tambal ban, tidak ada penduduk dan rumah yang bisa saya tanyai. Saya putuskan untuk menuntun motor dan jalan terus, jalan menuju ke arah kira-kira di mana ada jalan raya besar. Setelah menuntun entah berapa lama di tengah gerimis yang gelap, akhirnya ketemu jalan raya. Setelah menyusuri jalan raya akhirnya ketemu tukang tambal ban. Setelah mengantri beberapa lama akhirnya ban motor saya selesai diperbaiki dan saya bisa pulang.

Yang saya perhatikan, dalam kondisi susah yang bertumpuk-tumpuk itu, saya sama sekali tak merasa lelah. Ya lelah sih, tapi tidak seberapa. Padahal sudah menuntun jauh di tengah hujan gerimis tanpa ada kepastian di mana ada tambal ban. Saya baru merasakan capeknya saat telah sampai di kosa, saat sedang istirahat, capeknya baru terasa.

Saya yakin anda pernah merasakan pengalaman yang mirip. Bisa jadi saat anda pulang dari sekolah atau dari kantor, hujan sangat deras. Dan anda paksakan saja menembus hujan pakai jas hujan. Anda merasa baik-baik saja di jalan, tapi begitu sudah sampai di rumah baru lah rasa capeknya terasa. Iya kan? Pernah?

Nah, kejadian-kejadian & perasaan-perasaan itulah yang melandasi hipotesis saya bahwa orang yang sedang dalam perjalanan pulang kekuatannya berlipat-lipat dari normalnya.

Mengapa bisa begitu? Ada dua hal yang sepertinya menjadi penyebab hal ini.

Yang pertama: Orang-orang yang sedang dalam perjalanan pulang memiliki keyakinan yang tertanam dalam hatinya bahwa semua kesusahan yang dialaminya itu bersifat sementara. Mereka semuanya memiliki perasaan ini, baik disadari maupun tidak disadari. Mindset ini yang membuat seseorang menjadi tidak lemah menghadapi kesusahan-kesusahan yang menimpanya.

Saya sering melihat kebalikan dari mindset ini. Yaitu, orang-orang mengalami depresi karena mereka memiliki keyakinan bahwa kesusahan yang mereka hadapi tidak akan berakhir. Pernahkah anda dengar cerita tentang orang yang sakit menahun kemudian dia bunuh diri karena putus asa dengan penyakitnya? Hal ini disebabkan jauh dilubuk hatinya ia menganggap kesusahannya tidak akan pernah berakhir, akhirnya ia menyerah dan memilih bunuh diri.

Itu yang pertama. Keyakinan bahwa kesusahan yang terjadi hanyalah sementara.

Penyebab yang kedua: orang-orang yang sedang dalam perjalanan pulang meyakini dalam hatinya yang terdalam bahwa ada rumah yang nyaman yang menanti mereka di akhir perjalanan.

Jika faktor pertama tadi membuat merasa tidak lemah, faktor kedua ini membuat seorang yang sedang dalam perjalanan pulang bertambah kekuatannya. Lengkaplah sudah, dua faktor ini menjadikan seseorang memiliki kekuatan yang berlipat-lipat saat menghadapi susahnya perjalanan pulang. Dan hal ini berjalan dalam kepala mereka tanpa disadari.

Cukup make sense. 

Mari kita sebuat dua hal ini sebagai ‘Mental Mudik’.

Dan tahukah anda bahwa kita dalam beberapa keadaan mengaktifkan mental mudik ini meskipun tidak sedang dalam perjalanan pulang. Yang paling sering adalah saat sedang ujian sekolah atau kuliah. Mental mudik ini aktif saat kita memiliki keyakinan yang kuat dalam hati bahwa ujian itu tidak akan berjalan selamanya, hanya beberapa hari saja dan setelah ujian akan ada liburan dan kita bisa bersenang-senang dan santai. Akhirnya, kuatlah kita menghadapi ujian sekolah yang bertubi-tubi.

Iya kan? Iya kan?

Sekarang bagian menariknya. Setelah memahami hal ini, kita bisa memanipulasi mental mudik ini. Kita bisa menaikkan levelnya untuk men-tackle kesusahan yang jauh lebih besar.

Mari kita anggap bahwa seluruh hidup kita ini, seluruh umur kita di dunia ini adalah sebuah perjalanan, yang hanya sementara saja. Semua apa yang terjadi dan akan terjadi tidak akan permanen dan hanya sementara saja, suatu hari nanti akan berakhir. Dan setelah menyelesaikan perjalanan di dunia ini akan ada tempat yang sangat nyaman dan menyenangkan yang menanti kita, surga.

Tanamkan dalam hati, dalam keyakinan & aqidah kita. Memang tidak mudah sih, karena biasanya mental mudik aktif dengan sendirinya tanpa kita sadari. Tapi cobalah, jika gagal coba lagi, mungkin anda butuh beberapa lama sampai bisa berhasil. Jika anda berhasil, perhatikanlah bahwa kekuatan anda pasti akan meningkat berkali-kali lipat. Gunakan kekuatan ini untuk memenuhi tujuan penciptaan kita di dunia.

Gimana?

Akan Rusak

Hai, pembaca!

Dengan menggunakan apa anda membaca tulisan ini? Smartphone kah? Tablet kah? ataukah PC?

Hmm, tidak penting device apa yang anda gunakan. Sekarang perhatikanlah baik-baik device itu.

Ada suatu kaidah yang berlaku pada device anda.

Pandanglah alat canggih yang sedang anda gunakan saat ini. Sadarkah anda bahwa di baliknya terdapat berbagai mekanisme rumit yang sengaja didesain untuk keperluan tertentu?

Device yang anda gunakan saat ini didesain khusus sebagai alat komunikasi, selain itu dia juga didesain untuk berbagai keperluan tertentu lainnya, kamera dan kalkulator misalnya. Semakin rumit dan canggih suatu alat maka semakin powerful alat itu.

Tapi seberapa powerful-kah dia? bisakah tablet atau smartphone anda digunakan untuk menggali tanah? atau menancapkan paku? Bisa? Tentu saja bisa, tapi tidak akan maksimal dan akan menjadikannya rusak. Mengapa rusak? Karena smartphone dan tablet anda tidak dirancang untuk digunakan menggali tanah dan menancapkan paku.

Maka kita ambil kesimpulan kecil: suatu alat yang canggih memiliki mekanisme rumit yang sengaja dirancang untuk tujuan tertentu. Secanggih apapun alatnya, jika dia digunakan tidak sesuai dengan tujuan desainnya pasti akan berakhir rusak.

Nah,

Sekarang mari kita alihkan perhatian kita pada alat paling canggih yang memiliki mekanisme paling rumit di atas muka bumi ini. Apakah itu?

Anda tidak perlu membuka google untuk mencari tahu apakah alat itu. Anda hanya cukup melihat ke cermin. Yak. Salah satu mekanisme paling rumit dan paling canggih di atas muka bumi ini adalah ‘manusia’.

Manusia adalah salah satu mekanisme yang paling canggih dan rumit di atas bumi ini. Fisik manusia itu rumit dan canggih. Para ilmuwan kita belum mampu menerjemahkan dengan sempurna setiap proses yang terjadi dalam tubuh kita, para teknokrat juga belum mampu menciptakan replika tubuh manusia dengan sempurna. Terlalu rumit.

Belum lagi pikiran manusia. Ia jauh lebih rumit dibandingkan fisiknya. Pengetahuan kita mengenai psikologi dan alam bawah sadar manusia masih sangat terbatas. Masih tersisa ruang yang sangat luas yang belum ter-eksplorasi.

Kesimpulannya: manusia itu sangat rumit dan canggih.

Sebagaimana device yang kita miliki, manusia juga akan rusak jika dia digunakan tidak sesuai dengan tujuan desainnya. Dengan kata lain, manusia akan rusak jika ia menempuh jalan hidup tidak sesuai dengan tujuan penciptaannya.

Bagian manakah yang rusak? Semuanya. Bagian fisik bisa rusak. Bagian psikis juga bisa rusak. Tapi seringkali yang paling awal dan paling parah mengalami kerusakan adalah bagian psikis manusia.

Jika manusia tidak hidup sebagaimana tujuan penciptaannya, bisa dipastikan hatinya akan mengalami kerusakan dan kekacauan. Kerusakan ini bermanifestasi berupa perasaan tidak bahagia, galau, depresi, stres, dan yang semisalnya. Perasaan-perasaan ini bisa muncul simply karena manusia tidak hidup sebagaimana tujuan penciptaannya, meskipun secara fisik dan materil dia dalam keadaan yang sangat baik.

Sudah sering kan anda mendengar orang yang kaya dan terkenal menderita depresi?

Semakin meningkatnya jumlah penderita depresi dan jumlah orang yang merasa tidak bahagia dengan kehidupannya adalah indikator bahwa semakin banyak manusia yang hidup melenceng dari tujuan penciptaannya.

Tapi yang paling penting untuk saat ini adalah kita gunakan kaidah ini untuk mengecek diri kita masing-masing. Jangan-jangan perasaan tidak bahagia, depresi, tertekan, dan galau yang kita rasakan selama ini adalah gara-gara hidup kita melenceng dari tujuan kita diciptakan? Atau jangan-jangan memang kita selama ini tidak pernah tahu untuk tujuan apakah kita diciptakan?

Atau jangan-jangan … … …

3 Versus 1

Dia sedang merasa sumpek. Teman-temannya mulai membawa mobil baru, sedangkan ia masih belum memiliki mobil. Ia ingin punya mobil juga, yang bagus seperti milik teman-temannya. Hatinya terasa sumpek jika ia belum bisa memilikinya.

Dia pun berusaha keras, terengah-engah mencari cara mengumpulkan uang untuk membeli mobil baru. Rasanya ia  tidak sabar dan ingin cepat-cepat. Hingga akhirnya dia pun bisa membeli mobil baru yang bagus. Kredit sih, tapi tidak apa-apa, teman-temannya yang lain juga  beli lewat kredit. Dia merasa senang karena merasa tidak ketinggalan dengan teman-temannya.

Setelah memiliki sebuah mobil, ia mengira hidupnya akan tenang dan bahagia. Ternyata kenyataannya tidak. Dia merasa sumpek lagi. Sumpek karena alasan yang berbeda, ia khawatir terjadi apa-apa dengan mobil barunya yang bagus.

Hatinya tidak tenang. Khawatir kalau-kalau nanti mobilnya diserempet orang lalu catnya terkelupas. Dia khawatir kalau meninggalkan mobilnya di parkiran, takut-takut ada yang membobolnya. Khawatir kalau mobilnya dipinjam, jangan-jangan nanti yang pinjam kecelakaan. Kalau dia melihat ada orang yang dekat-dekat mobilnya ia merasa deg-degan, jangan-jangan dia punya niat buruk dengan mobilnya. Dia juga khawatir kalau-kalau mobilnya rusak karena salah maintenance. Khawatir ini, khawatir itu, di sini khawatir, di sana khawatir.

Ternyata setelah memiliki mobil bagus, ia tak sebahagia yang dia kira.

Sampai akhirnya pada suatu saat, apa yang dia khawatirkan terjadi juga. Mobilnya rusak karena kecelakaan. Rusak parah, hancur, tak lagi bisa digunakan. Mobil bagus yang dia bangga-banggakan sekarang telah tiada. Kenangang-kenangannya selama memiliki mobil itu membuatnya sedih. Dia kembali merasa sumpek.

rect4485


Sadarkah kita bahwa dalam satu kesenangan duniawi akan selalu ada tiga kesumpekan yang mengiringinya. Sumpek saat belum mampu mewujudkan kesenangan itu. Sumpek saat telah memilikinya karena takut kehilangan. Sumpek saat kesenangan itu telah benar-benar hilang.

Karena itu janganlah menjadi orang yang hatinya tertambat murni pada kesenangan dunia, jangan menjadi orang yang cita-cita tertingginya adalah tentang dunia. Orang semacam ini sungguh akan rugi, karena sumpek yang akan dia rasakan tiga kali lebih banyak dibandingkan kesenangan yang didapatkannya.

Asal Tidak Ganggu #2


Ini adalah tulisan bagian kedua. Silahkan baca dahulu bagian pertamanya di sini. Baca dulu ya agar bisa memahami tulisan bagian dua ini.


Ok, sampai di mana kita?

Manusia boleh lepas dari aturan, tidak mau diatur-atur asalkan memenuhi satu syarat, yaitu dia memiliki pengetahuan yang sempurna tentang segalanya.

Pertanyaannya, apakah syarat ini bisa dipenuhi? Yak, anda sudah tahu jawabannya, ini adalah syarat yang tak mungkin bisa dipenuhi. Setidaknya ada dua hal yang membuat satu syarat ini mustahil untuk terwujud.

Yang pertama adalah: manusia tidak diciptakan untuk memiliki pengetahuan yang sempurna. They simply don’t have the capability. Otak manusia tak mampu. Perhatikanlah, adakah seorang ahli bedah yang mampu membangun sebuah pesawat ulang alik? tidak ada. Adakah profesor matematika yang mampu menulis bait-bait syair indah yang mengungkapkan isi hati seorang wanita? Saya yakin tidak ada.

Begitulah otak manusia. Semakin ia digunakan untuk menguasai dan mendalami suatu bidang, maka ia akan lemah pada bidang lainnya. Para guru besar di universitas, keahlian mereka spesifik pada satu bidang dan mereka bodoh dalam bidang yang lainnya. Sehingga memiliki pengetahuan yang sempurna adalah hal yang mustahil bila ditinjau dari sisi ini.

Yang kedua, banyak hal-hal yang tak mampu dipahami manusia karena hal-hal tersebut berjalan tak sesuai dengan nalar. Saya bawakan contoh yang paling sederhana. Apakah ada perempuan yang mencintai laki-laki yang cuek dan sering menyakitinya? Adaaa. Apakah ada laki-laki yang mengkhianati dan menyelingkuhi istri yang sebenarnya dicintainya? Adaaa. Kok bisaaa?

Itu adalah contoh yang sederhana. Hal-hal yang di luar nalar seperti itu ada banyak sekali, terutama jika berhubungan dengan perasaan dan sesuatu yang non-fisik. Saya menantang anda untuk mendapatkan contoh-contoh lainnya.

Hal yang berjalan di luar nalar ini menghalangi menusia untuk memiliki pengetahuan yang sempurna dalam segala hal. Itu adalah dua alasan mengapa pengetahuan yang sempurna adalah suatu hal yang mustahil untuk manusia.

Lalu bagaimana?

Ada seorang yang sakit dan ingin sembuh. Dia tak memahami sempurna tentang anatomi manusia, fisiologi tubuh manusia dan berbagai biokimia yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, dia datang ke dokter untuk mendapatkan instruksi bagaimana caranya sembuh. Dokter kemudian memberikannya instruksi yang bisa dia pahami. Minumlah obat ini, perbanyak makan ini, pantang makan itu dan sebagainya. Si pasien tinggal melaksanakan, kemudian sembuhlah dia.

Analogi orang yang sakit pergi ke dokter ini adalah analogi sederhana. Tapi cerdas.

Instruksi. Yang dibutuhkan manusia yang tidak memiliki pengetahuan sempurna tentang kehidupan dan semesta ini adalah instruksi. Instruksi, sehingga ia bisa melewati dengan benar kehidupan di dunia ini. Dan instruksi yang dibutuhkan bukanlah sembarang instruksi, tapi instruksi dari pemilik pengetahuan yang sempurna.

Di sinilah letak kebutuhan manusia terhadap aturan syariat.

Allah subhanahu wata’ala, Yang Maha Mengetahui dan yang menciptakan manusia memiliki pengetahuan yang sempurna tentang segalanya. Menetapkan aturan-aturan syariat yang bisa dipahami oleh manusia. Dan manusia tinggal mengikutinya. Manusia tidak dituntut untuk mengetahui berbagai hikmah di baliknya. Meskipun banyak ulama berusaha mengungkapkan hikmah di balik syariat. Ada yang berhasil diungkapkan. Ada yang tidak, karena keterbatasan otak manusia.

Kita tinggal mempelajarinya dan mengamalkannya. Sederhana kan?

Jadi setelah membaca dua bagian tulisan ini, saya bertanya pada anda. Manakah yang lebih sesuai dengan akal sehat: hidup bebas tanpa mau dikekang aturan ataukah hidup tunduk dan berpegang teguh pada syariat?

Anda sudah tahu jawabannya.

Maka jika ada teman kerabat anda yang mulai terpengaruh pemikiran liberal dan ingin bebas lepas dari aturan-aturan syariat lemparkan tulisan ini ke wajahnya bagikan tulisan ini, agar dia bisa berpikir ulang dan mengevaluasi pilihannya.

#logis