Wisdom Kue Lebaran

Di tulisan yang lalu saya cerita kalau di rumah sedang ada banyak kue lebaran menumpuk. Saat ini, dua hari setelahnya, apa yang terjadi dengan kue-kue itu? Unfortunately, kuenya jadi tambah banyak lagi.

Beberapa berkurang sih sebenarnya, karena dimakan tamu dan dimakan keluarga sendiri. Tapi tamu-tamu yang datang seringkali membawa kue tambahan, beberapa toples atau beberapa dus. Selain itu saat kami berkunjung ke rumah saudara, mereka malah membawakan kue pada kami. Jadilah kue-kue lebaran di rumah semakin membanjir. Ada kue di mana-mana.

Arus kue-kue yang datang dengan deras itu membuat saya terpikir sebuah kaidah: Bahwa kita tidak bisa mengontrol kue-kue yang datang ke rumah, tapi kita bisa mengontrol kue apa yang kita makan. Something obvious, huh?

Kaidah ini sebenarnya cukup klise dan sering disampaikan di acara-acara motivasi. Para motivator seringkali menyampaikan bahwa kita tidak bisa mengontrol apa yang terjadi di dunia ini tapi kita bisa mengontrol bagaimanakah diri kita merespon kejadian-kejadian itu. Kaidah yang sama tapi dengan diksi yang berbeda.

Tapi saya merasa analogi dengan menggunakan kue lebaran lebih make sense. Coba aplikasikan kaidah ini pada hal lain selain kue. Aplikasikan pada TV, internet, atau media masa lainnya.

Kita yang orang biasa tidak bisa mengontrol apa yang disiarkan di TV, apakah itu acara pembodohan, kesyirikan, fake news, framing, provokasi, pencitraan, atau acara-acara sampah lainnya, tapi kita bisa mengontrol apa yang kita tonton. Kita punya kontrol penuh terhadap remote control TV-nya. Kita punya kontrol penuh terhadap tombol power nya.

Begitu juga internet, kita tidak punya kontrol terhadap konten-konten apa sajakah yang di-share dan disediakan di sana, entah itu pornografi, judi, hoax, ataupun yang lainnya, tapi kita punya kontrol penuh pada browser internet kita -pada apa yang akan ia buka. Kita juga punya kontrol penuh terhadap tombol power PC atau smartphone kita masing-masing.

Nah, silahkan pikirkan sendiri bagaimanakah jika kita mengaplikasikan kaidah ini pada berbagai media masa yang bertebaran dalam kehidupan kita.

Dan perhatikanlah, bahwa meskipun kontrol yang kita miliki terlihat sangat sederhana tapi ia sebenarnya amat sangat powerful. Mau sekacau apapun acara TV nya, mau sehancur apapun konten website-nya, mereka tidak akan mampu menyesatkan dan memberi efek buruk pada kita jika kita matikan tombol powernya. Iya kan?

Karena itu, sebagai orang biasa janganlah merasa lemah, manfaatkan kontrol yang ada di tangan anda masing-masing. Sebuah kontrol yang amat powerful yang mampu me-nullify berbagai pengaruh buruk.

Ok. Saya mau lanjut makan kue lagi.

9 thoughts on “Wisdom Kue Lebaran

  1. Setuju banget. Harus belajar mengontrol sendiri trhdp apa sj yang disajikan di depan kita. Keren tulisannya membuat pikiran lebih terbuka khususnya arus informasi sprti skrg.

    Like

    1. Aku pikir sih bgtu. Krn skrg nih kita tdk bisa mengendalikan gempuran informasi yang berkembang di dunia. Tinggal kita yg pintar2 memilah dan memilih hal apa yg brmanfaat utk kita. Mungkin sih gitu

      Like

  2. Betul kita bisa memilih situs apa yang kita buka. Kita punya kendali. Sebagai contoh saya yang punya akses internet unlimited, justru situs yang saya buka hanya sedikit. Situs itu-itu aja 😁

    Liked by 1 person

  3. Ini masuk akal. kue lebaran bisa memberi inspirasi seluas ini. good job! Selamat melanjutkan makan kue lebaran. Punya saja jg masih banyak.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s