Benci Fiksi – Bukan Fiksi

Dia tidak ingat kapan mulai bisa membaca. Yang pasti sebelum bergabung masuk di taman kanak-kanak, ibunya telah mengajarinya. Di waktu masih sangat kecil itu pula ia mendapatkan buku komik pertamanya. Berkali-kalinya dibaca hingga lecek. Komik itu adalah tentang hantu Casper, dan cerita yang sering diulang-ulangnya adalah cerita tentang hantu teman Casper, namanya Spooky, yang kehilangan topinya. Dia masih ingat persis meskipun dia membacanya saat belum masuk TK.

book-genre

Ia menjadi suka membaca. Membaca majalah yang berlambang keluarga kelinci Bobo yang tiap minggu dibawakan oleh ayahnya sepulang kerja di pabrik. Saking seringnya membacanya, sampai-sampai ia jatuh sakit dan dilarang dokter membaca dan disuruh lebih banyak beristirahat.

Dia masih ingat persis tentang buku komik keduanya. Buku komik keduanya adalah buku komik hasil sitaan ibunya yang seorang guru. Buku itu lecek, warna kertasnya sudah kusam, covernya sudah lepas, bercerita tentang Goku dan teman-temannya yang akan menghadapi Cell dalam bentuk sempurnanya di sebuah turnamen. Iya, itu adalah komik Dragon Ball, ada yang masih ingat arc itu?

Dan ada satu lagi sumber bacaannya. Oomnya yang bekerja di pabrik kertas sering kali membawakan majalah-majalah komik yang ada banyak berserakan di penampungan sampah mereka. Tahukan biasanya pabrik kertas memiliki penampungan sampah-sampah kertas yang akan didaur ulang lagi. Di penampungan ini berserakan berbagai majalah komik, baik dalam negeri maupun luar negeri, yang entah dari mana datangnya.

Kota kecil tempatnya tinggal tidaklah memiliki toko buku besar. Hanya toko buku yang menjual buku-buku paket untuk anak-anak sekolah. Karena itu, jika sedang berkunjung ke kota besar, tentu saja toko buku yang menjadi jujugannya. Membeli dan membawa pulang berbagai buku cerita dan komik tentu saja.

Itu sekelumit tentang masa kecilnya. Pada masa SD itu, piala pertama yang diperolehnya adalah piala untuk lomba menulis cerita fiksi.

Saat beranjak remaja, ia mulai berpindah. Dari komik menuju buku-buku light novel tipis terjemahan milik tantenya. Waktu itu penulis yang bukunya banyak laku adalah Miyuki Kobayashi, ada yang ingat nama itu? Ditambah buku-buku chicken soup yang sedang populer. Juga novel-novel Kang Abik mulai booming satu atau dua tahun kemudian. Ayat-Ayat Cinta adan Ketika Cinta Bertasbih dihabiskannya dalam satu atau dua kali duduk. Masa itu, buku komedi Raditya Dika juga mulai muncul di pasaran.

Ketika internet mulai masuk dan dikenal luas, ia menyadari bahwa buku-buku komik bisa dibaca gratis di sana. Sebuah dunia baru seperti terbuka untuknya. Membaca seratus chapter komik dalam satu hari bukanlah sebuah big deal untuknya. Jika sebuah chapter terdiri hampir dua puluh halaman, maka yang dibacanya adalah hampir dua ribu halaman dalam sehari. Dan kebiasaannya mengonsumsi komik-komik berbahasa inggris secara intens ini membuat nilai toefl-nya naik gila-gilaan.

Melewati internet, dia menyelami banyak genre, bertemu banyak karakter dan memasuki banyak dunia. Menapaki dunia-dunia dengan seting klise maupun dunia yang unik dan original. Menemukan hidden gem yang tidak dibaca banyak orang.

Ada satu perkataan penulis komik yang masih diingatnya, yaitu: menulis komik adalah menciptakan setting kemudian menyiapkan karakter, kemudian karakter-karakter itu akan bergerak sendiri membuat cerita yang bahkan sang penulis pun tak mampu memprediksinya. Itu adalah kata-kata penulis komik yang memiliki sebuah seri yang berjalan selama lebih dari 13 tahun. Sebuah seri komik fantasi yang membuat pembaca menahan nafas mengantisipasi ceritanya yang tidak bisa diprediksi sama sekali

Melewati internet pula dia berinteraksi dengan bentuk-bentuk lain story telling. Film, anime, light novel yang tebal dan berseri, video sketsa, dan sebagainya. Singkatnya, ia telah tenggelam dalam dunia fiksi sejak masih sangat dini. Semua cerita, pengalaman, dan perasaannya saat menapaki dunia fiksi itu masih segar di ingatannya. Anda tak perlu menjelaskan indah dan manfaatnya dunia fiksi kepadanya, ia telah memahaminya luar dan dalam. Dia menyukainya.

Hingga suatu saat …

(bersambung insya Allah)

6 thoughts on “Benci Fiksi – Bukan Fiksi

  1. Pas baca ini, langsung flash back ke toko buku yg jual oaket buku sekolah ahaha sampe inget aroma toko itu dan aroma buku2 paket.. rindu masa kecil jadinya.. smoga beesambung kwkwkw

    Liked by 2 people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s