Ngiklan

Ini bukan postingan ngiklan

penulis

Tadi sore saya potong rambut. Begitu sampai di tempat tukang cukur ada satu orang anak yang sedang dipotong rambutnya dan dua orang yang sedang antre. Otomatis harus ikut antre juga.

Di ruang tunggu yang tidak seberapa besar itu ada sebuah TV tabung 14 inch jadul. Biasanya di sana ada koran, tapi tadi tidak ada satu-pun koran, jadilah saya nonton TV.

Ini adalah salah satu momen langka dimana saya menonton TV. Hampir sepuluh tahun terakhir saya termasuk sangat jarang nonton TV. Sejak merantau kuliah dulu, saya sudah jarang menyentuh TV. Di kosan sama sekali tidak ada TV. Waktu kerja juga, di kantor tidak ada TV. Saya hidup bertahun-tahun tanpa TV dan sudah terbiasa.

Tadi sore, channel yang diputar di tempat si tukan cukur adalah pertandingan bola, Persebaya vs tim yang ga tahu apa namanya. Tulisan nama timnya yang ditulis di ujung kiri atas layar terlalu kecil, ga terbaca. Ga tahu juga tadi pertandingan liga apa.

Begitu saya masuk ruang tunggu tukang cukur, pertandingannya sudah berjalan 87 menit dengan skor masih kosong-kosong. Dan tetap kosong-kosong sampai habis masa injury time di menit ke-92.

Tapi bukan itu yang ingin saya bicarakan.

Selepas pertandingan itu, pasti muncul iklan kan? Nah iklan-iklan ini yang tadi malah menyita perhatian saya.

Mungkin karena lama tidak nonton dan perhatian dengan TV, saya jadi merasa sedikit lebih aware/ peka dengan apa yang sedang disiarkan TVnya, termasuk juga iklannya.

Dan setelah menonton banyak iklan tadi, rasa-rasanya iklan di TV intinya sama semua. Berdasarkan pengamatan tadi, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa ada dua inti yang ada dalam sebuah iklan. Satu iklan bisa mengandung dua-duanya atau hanya salah satunya.

Yang pertama adalah: bintang iklan yang senang atau bahagia. Coba saja perhatikan, hampir setiap iklan produk barang atau jasa selalu menampilkan orang-orang yang terlihat bersenang-senang atau terlihat bahagia.

Orang membuka sebuah minuman jeruk yang ada pulpnya, dia minum, lalu wajahnya berubah bahagia. Ada ibu-ibu masak, masukkan kecap ke dalam masakannya, kemudian keluarganya berkumpul bahagia di meja mekan. Ada sekumpulan orang, jalan-jalan sambil membawa botol air mineral, wajah mereka bahagia. Mbak-mbak keramas pakai shampoo, setelah itu bahagia.

Pesan yang ingin disampaikan iklan-iklan ini sederhana sebenarnya kalau kita pikirkan. “Pakai produk kami, anda akan bahagia”.

At the end of the day, sepertinya kita harus mengakui bahwa yang kita cari sebenarnya adalah kebahagian. Iklan-iklan ini jadi testimoninya. Mereka berusaha memikat massa yang banyak. Umpan paling populer yang hampir semua mereka gunakan adalah kebahagiaan.

Yang kedua adalah: ‘romantisasi’. Banyak di antara iklan-iklan itu, selain menjual kebahagiaan, mereka juga meromantisasi produk mereka. Menjadikan produk mereka sebagai sesuatu yang romantis dan menyentuh hati, seakan-akan produk mereka adalah sesuatu yang akan mengubah dunia. Padahal aslinya ya produk itu biasa-biasa saja. Produk-produk itu aslinya dibuat ya profit-oriented alias untuk cari keuntungan.

Seperti iklan sebuah kecap, dengan suara narator yang terdengar bijak menyebutkan bahwa kecap mereka akan membantu ibu menghadirkan kelezatan penuh cinta. Hahaha, jujur saya ingin tertawa mendengarnya. Kecap ya kecap aja, buat nambah manis di masakan, bukan buat menghadirkan kelezatan penuh cinta.

Lalu ada iklan sebuah marketplace, sebut saja marketplace ‘bukatoko’. Iklan mereka sama dengan iklan kecap tadi, menggunakan suara narator yang terdengar bijak plus optimis menyebutkan bahwa bukatoko akan membuka dunia, membuka cakrawala, membuka kesempatan, membuka kehidupan, dan lain-lain. Diiringi dengan musik yang juga optimis dan uplifting. Padahal ya aslinya cuma webiste marketplace tempat orang jualan, ga seromantis iklannya.

Ada juga iklan bank yang seakan-akan mereka membantu orang-orang mewujudkan mimpi, membantu negara menjadi maju, dan lain-lain. Padahal aslinya ya mereka cuma minjami uang lalu minta dikembalikan ditambah bunga. Ga peduli keadaan peminjamnya gimana. Kalau yang pinjam ga bisa balikin utang pokok dan bunganya maka aset mereka akan disita tanpa ampun. Tak seromantis iklannya.

Jika anda melihat TV, coba perhatikan iklannya. Iklan-iklan itu mesti tidak lepas dari dua hal di atas. Entah itu selling happiness atau romanticizing. Iklan-iklan di youtube juga sepertinya begini juga.

Kalau anda aware dengan dua hal ini, iklan-iklan itu akan terdengar lucu dan kadang-kadang cringy.

Saya tidak tahu apakah dibalik ini ada orang-orang yang ahli masalah psikologi manusia. Yang mereka tahu bagaimana cara memancing alam bawah sadar penonton untuk tertarik dengan produk mereka. Mestinya sih ada. Saya tahunya di beberapa brand-brand besar, ada orang-orang semacam psikolog yang mendesain bagaimana agar orang-orang menyukai produk mereka. Ada video dokumentari mengenai ini. Coba saja browsing.

Saya sebenarnya tidak suka dengan iklan-iklan begini. Kenapa? ya karena seringnya apa yang disampaikan di iklan-iklan itu palsu.

Kebahagiaan yang ada di iklan-iklan itu cuma kebahagian tidak nyata yang hiperbolis. Jika anda pakai produk mereka, anda tak akan jadi sebahagia para bintang iklan itu.

Yang menggunakan romantisasi malah lebih bahaya lagi. Karena jika kita pikirkan, romantisasi sebenarnya adalah salah satu bentuk propaganda. Mengubah pandangan orang-orang. Segala sesuatu bisa diromantisasi. Hal yang sebenarnya biasa saja atau bahkan buruk bisa diromantisasi sehingga kelihatan baik, begitu juga sebaliknya. Bahkan KBBI kita pun menyebutkan bahwa salah definisi ‘propaganda’ adalah ‘reklame’.

Jika suatu saat saya punya produk, iklan yang saya buat untuk produk saya itu tidak akan mengandung dua hal di atas. Tidak selling fake happiness, tidak juga mengandung romantisasi. Saya ingin iklan yang straighforward, menjelaskan fitur produknya dan keuntungan jika menggunakannya, disertai dengan sebuah website yang menjelaskan detail produknya: fitur, kelebihan, kekurangan, dan lain-lain. Disampaikan dengan jujur dan apa adanya. Sudah begitu saja.

Dibanding sibuk melakukan sugar coating, saya lebih memilih sibuk melakukan improvement produk. Orang-orang nantinya juga akan tahu mana yang benar-benar baik untuk mereka.

6 thoughts on “Ngiklan

  1. Wohoo.. Selling fake happiness.
    Kyknya gak juga deh mas. 😅😂
    Simpleny aja jualan kerudung. Kenapa modelnya cantik dan hampir semuanya berpose bahagia?
    Kenapa bukan kerudung tok yang dipajang beserta detailnya?
    Walaupun si pembeli tahu saat memakai kerudung tsb ia belum tentu secantik model di iklannya. Kira2 knp y?

    Like

    1. Well if selling fake happiness is too harsh, then selling exaggerated happiness.

      Itu sugesti secara ga sadar ke pembeli agar mereka mikir kalau pakai kerudung itu bisa jadi seperti si model, cantik & bahagia.

      Produsen & pengiklan kerudungnya juga bisa jadi memberi sugesti seperti itu tanpa bermaksud. Mereka ga berniat melakukan psychological tweak ke audiensnya, mereka cuma paham teknik marketing yang bagus untuk membuat kerudung laku adalah pakai model yang cantik yang wajahnya berseri bahagia.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s