Pikiran Di Rumah Sakit

Pagi tadi saya pergi ke RSUD Kota untuk menjenguk Bude yang sakit.

Kasihan sekali, beliau kurus kering, hanya tersisa tulang dibalut kulit dengan perut yang agak buncit karena kanker. Kata dokter kankernya sudah menyebar kemana-mana, sudah tidak ada tindakan yang bisa dilakukan lagi. Dokter meminta keluarga menuruti saja apa yang bude saya minta.

Sedih saya melihatnya.

Saat berada dekat dengan kematian seperti ini, saya disadarkan bahwa umur dan kesehatan bukanlah sesuatu yang taken for granted. Suatu saat nanti, kesehatan dan umur yang kita nikmati saat ini bisa hilang dan diambil dari kita. Apa yang kita miliki sekarang ini tidaklah akan seperti ini selamanya.

Saat-saat bertatap muka dengan kematian ini juga membuat semua hal yang sebelumnya kita anggap penting menjadi terasa trivial. Harta, rumah, mobil, jabatan jadi terasa tidak berarti lagi. Memaksa pikiran ini untuk kembali berpikir tentang untuk apa kita sebenarnya hidup


Pikiran saya sempat melayang ke beberapa hari yang lalu. Saat itu ada seorang teman yang membagikan tweet seorang pengguna twitter yang banyak followernya, saya ga tau apakah dia termasuk selebtwit ataukah bukan, yang pasti dia termasuk influencer di twitter. Tweet yang dia tulis kira-kiranya adalah: sepertinya kesalahan kalau kita disuruh melihat orang lain yang berada di bawah kita supaya kita bisa bersyukur. Karena itu sebenarnya adalah schandenfreude.

Kira-kiranya seperti itu. Intinya adalah jika kita bersyukur karena melihat orang lain yang lebih buruk keadaannya dibandingkan kita maka itu adalah schadenfreude dan itu adalah kesalahan.

Schadenfreude. Apa itu schadenfreude? Twitter kan tempat berkumpulnya orang-orang yang merasa elit. Mereka sering memakai istilah-istilah yang sulit biar terlihat keren dan intelek. Saya juga awalnya ga tahu apa artinya schandenfreude. Harus ngecek dulu di dictionary.com

Jadi schandenfreude menurut dictionary.com adalah pleasure derived by someone from another person’s misfortune, perasaan senang karena ada orang lain yang mengalami ketidakberuntungan.

Sebagaimana umumnya tweetnya seorang influencer di twitter, tweet ini banjir re-tweet dan komen dari para pembebek yang terpengaruh dan ingin dianggap sebagai intelek. Sebagian dari mereka malah sampai menolak hadits Nabi yang memerintahkan kita melihat orang lain yang kondisinya di bawah kita supaya kita bisa bersyukur.

Maka saya yang habis menjenguk Bude bisa dengan vokal membantah tweet si influencer. Melihat keadaan Bude membuat saya sedih sekaligus bersyukur karena ingat nikmat sehat & nikmat umur yang masih saya miliki, tidak ada perasaan pleasure sama sekali yang saya rasakan.

Sepertinya dia, si influencer twitter, masih sangat picik tentang emosi manusia. Pengetahuannya tentang perasaan manusia yang terlalu terbatas membuatnya melakukan generalisasi yang sangat ngaco. Menganggap bersyukur setelah melihat seseorang terkena musibah sebagai sebuah schadenfreude adalah hal yang sangat ngaco, amat sangat ngaco sekali.

Melihat orang lain yang mendapat musibah dan ketidakberuntungan membuat kita bersyukur karena kita jadi sadar akan banyaknya nikmat yang kita dapatkan, banyaknya nikmat yang kita dapatkan tetapi tidak mereka dapatkan. Perasaan syukur ini sangat mungkin untuk didampingin oleh perasaan sedih karena simpati.

Teori saya mengapa si influencer itu menganggap bahwa bersyukur saat melihat orang yang keadaannya di bawah kita sebagai schadenfreude adalah karena si influencer adalah seorang yang pendengki.

Dia adalah seorang pendengki dan seorang pendengki senang melihat orang yang susah. Kemudian terjadilah false-consensus effect. False-consensus effect adalah keadaan psikologi yang membuat seseorang merasa bahwa apa yang ada di perasaannya juga ada di perasaan orang lain. Sederhananya adalah, dia menganggap bahwa pikirannya sama dengan pikiran orang lain. Dia dengki dan merasa senang saat ada orang susah, maka dia menganggap bahwa semua orang juga adalah pendengki dan merasa senang saat ada orang susah sebagaimana dirinya.

Begitukah? Bisa jadi. Bisa jadi juga bukan, karena ini hanyalah teori.

Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.

HR. Bukhari dan Muslim

12 thoughts on “Pikiran Di Rumah Sakit

  1. Exactly what I thought when I saw that tweet.

    “kenapa harus dibikin susah atau meribetkan sesuatu sih”

    Kita, manusia, tempatnya lalai, dan dunia adalah tempat ‘main’, kadang kita suka terlena

    Bbrp waktu lalu jg bertemu temannya ibu, pejuang kangker, beliau cerita gimana kangker mengubah hidupnya, gak boleh minum minuman dgn pengawet, pemanis buatan, sejak itu saya gak pernah mengkonsumsinya jg, berasa malu dan tersindir, badan sehat malah gak amanah, jadi kita perlu bgt belajar dr orang lain, bersyukur..

    Like

  2. Terima kasih sudah berbagi, mas. Influencernya muslim kah? Saya nggak nyangka ada yang salah paham tentang arti bersyukur. Sungguh aneh bersyukur disama artikan dengan rasa bahagia ketika orang lain susah ckckck

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s